Sabtu 11 Jan 2025 17:54 WIB

Sebagian Data di Kotak Hitam Pesawat Jeju Air Hilang

Kotak hitam ditrmukan dengan data hilang di empat menit terakhir.

Petugas pemadam kebakaran dan anggota tim penyelamat melakukan evakuasi di dekat puing-puing pesawat penumpang Jeju Air 7C2216 di Bandara Internasional Muan di Muan, Korea Selatan, Ahad (29/12/2024). Pesawat Jeju Air 7C2216 yang membawa 175 penumpang dan enam kru dalam penerbangan dari Bangkok, Thailand jatuh terbakar dan meledak setelah mendarat dan kemudian menghantam tembok pembatas di bandara Internasional Muan. Data sementara 85 orang tewas dalam peristiwa itu.
Foto: See Dae-yun/Yonhap via AP
Petugas pemadam kebakaran dan anggota tim penyelamat melakukan evakuasi di dekat puing-puing pesawat penumpang Jeju Air 7C2216 di Bandara Internasional Muan di Muan, Korea Selatan, Ahad (29/12/2024). Pesawat Jeju Air 7C2216 yang membawa 175 penumpang dan enam kru dalam penerbangan dari Bangkok, Thailand jatuh terbakar dan meledak setelah mendarat dan kemudian menghantam tembok pembatas di bandara Internasional Muan. Data sementara 85 orang tewas dalam peristiwa itu.

REPUBLIKA.CO.ID, SEOUL -- Kotak hitam pesawat penumpang milik Jeju Air Co. yang terlibat dalam kecelakaan fatal pada bulan lalu ditemukan tidak memiliki data selama empat menit terakhir sebelum ledakan. Hal itu disampaikan otoritas investigasi pada Sabtu (11/1/2025).

Menurut otoritas Korea Selatan, analisis oleh Badan Keselamatan Transportasi Nasional Amerika Serikat (NTSB) terhadap perekam data penerbangan (FDR) dan perekam suara kokpit (CVR) dari pesawat B737-800 menunjukkan bahwa rekaman pada kedua perangkat berhenti sekitar empat menit sebelum pesawat menabrak struktur pemancar sinyal pemandu.

Baca Juga

Ledakan terjadi pada pukul 09.03 waktu setempat pada 29 Desember, ketika penerbangan Jeju Air menabrak gundukan beton yang berisi peralatan pemancar di ujung Bandara Internasional Muan setelah tergelincir tanpa roda pendaratan terbuka.

FDR dan CVR berhenti merekam data mulai pukul 08.59 yang membuat penyelidik kesulitan menganalisis situasi.

Otoritas menyatakan bahwa meskipun data FDR dan CVR sangat penting untuk investigasi, keduanya bukan satu-satunya sumber bukti.

"Investigasi melibatkan analisis berbagai sumber informasi, termasuk catatan kontrol lalu lintas udara, rekaman video kecelakaan, dan puing-puing dari lokasi kejadian," kata mereka.

Komponen kotak hitam telah dikirim ke NTSB di Washington pekan lalu untuk verifikasi silang guna memastikan keandalan data. Penyelidik Korea Selatan yang dikirim ke NTSB dijadwalkan kembali ke Korea pada Senin (13/1/2025) untuk melanjutkan penyelidikan di dalam negeri.

 

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement