Kamis 27 Mar 2025 14:36 WIB

Cerita Ketua Apindo Jateng Jadi Korban Premanisme Ormas

Aksi premanisme berkedok ormas merupakan isu yang sudah lama berlangsung.

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Mas Alamil Huda
Surat permintaan dari ormas kepada pelaku usaha untuk pemberian THR.
Foto: Republika
Surat permintaan dari ormas kepada pelaku usaha untuk pemberian THR.

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jawa Tengah (Jateng) Frans Kongi mengaku pernah menjadi korban aksi premanisme organisasi kemasyarakatan (ormas). Dia tak menampik, praktik tersebut menganggu iklim investasi.

Frans mengungkapkan, oknum-oknum ormas mempunyai berbagai modus untuk memperoleh uang dari para pelaku usaha. "Dulu pengalaman saya, kan kita pabrik, ada supplier masuk, ada truk masuk, mereka (oknum ormas) minta supaya mereka yang jaga parkir, mau pungut parkir. Ya kan kita malu, itu perusahaan kita kok, yang datang supplier itu kan tamu. Masa tamu datang ke rumah kita pakai mobil, kita minta parkir. Kan lucu itu," ucapnya kepada Republika, Kamis (27/3/2025).

Baca Juga

Praktik premanisme ormas lainnya yang pernah dihadapi Frans adalah terkait urusan bongkar muat di area pabrik. "Mereka minta supaya mereka bongkar muatan yang masuk ke pabrik. Ya nggak bisa, kita punya karyawan kok," ujar Frans.

"Saya selalu mengatakan, kalau Anda memenuhi syarat, lamar lah (pekerjaan). Kalau memenuhi syarat, kita terima. Tapi kalau tidak, kan tidak bisa kita terima," tambah Frans.

Menurutnya, para pelaku usaha memang harus berani menolak aksi premanisme ormas semacam itu. "Akhirnya mereka enggak berani juga. Tapi kalau kita takut sama dia, ya berkembang," kata Frans.

Frans Kongi mengungkapkan, dia belum menerima laporan dari para anggota Apindo Jateng tentang adanya aksi premanisme ormas menjelang Lebaran. "Kita di Jawa Tengah sampai sekarang, saya tidak ada laporan dari anggota-anggota bahwa terjadi begitu (premanisme ormas)," ucapnya.

Namun Frans mengakui bahwa aksi premanisme ormas merupakan isu yang sudah lama berlangsung, tidak hanya di Jateng, tapi juga wilayah-wilayah lain di Indonesia. "Mungkin akhir-akhir ini lebih ganas," ujarnya.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement