Selasa 19 Jul 2022 23:18 WIB

Epidemiolog Yakin Kasus Harian Covid-19 Bakal Lampaui 5.085 Kasus

Epidemiolog menyebut varian Covid-19 BA.4 dan BA.2.75 menyebar sangat cepat

Warga melintas di Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Pinisi di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta. Epidemiolog dari Griffith University Dicky Budiman meyakini jumlah kasus harian COVID-19 di Indonesia jauh lebih besar dari angka yang dilaporkan hari ini berjumlah 5.085 kasus.
Foto: ANTARA/M Risyal Hidayat
Warga melintas di Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Pinisi di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta. Epidemiolog dari Griffith University Dicky Budiman meyakini jumlah kasus harian COVID-19 di Indonesia jauh lebih besar dari angka yang dilaporkan hari ini berjumlah 5.085 kasus.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Epidemiolog dari Griffith University Dicky Budiman meyakini jumlah kasus harian COVID-19 di Indonesia jauh lebih besar dari angka yang dilaporkan hari ini berjumlah 5.085 kasus.

"Lima ribuan kasus pun belum menemui semuanya. Kasus ini jauh lebih besar dari laporan hari ini," kata Dicky Budiman yang dikonfirmasi di Jakarta, Selasa (19/7/2022) malam.

Dicky mengatakan 5.085 kasus konfirmasi harian per Selasa pukul 12.00 WIB bukan situasi yang aneh, mengingat subvarian Omicron BA.4 dan BA.2.75 yang ada di Indonesia memiliki karakteristik penyebaran yang relatif cepat.

Bahkan, kata Dicky, varian tersebut di beberapa negara dilaporkan mampu mereinfeksi manusia jauh lebih cepat dari varian sebelumnya.Kasus harian COVID-19 ini merupakan kali pertama tertinggi sejak 24 Maret 2022. Kasus aktif juga menembus 30.000 pasien, setelah terjadi penambahan 2.000-an kasus.

Menurut Dicky upaya saat ini yang dapat dilakukan adalah mencegah infeksi subvarian Omicron jangan sampai menimpa kelompok masyarakat yang berisiko tinggi seperti lansia atau mereka yang berkomorbid, bahkan yang belum menerima booster.

"Upaya saat ini jangan menunggu ledakan kasus, terutama kejar cakupan tiga dosis vaksinasi. Ini pekerjaan rumah yang harus segera dikejar," ujarnya.

Secara terpisah, Ketua Satuan Tugas COVID-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Prof Zubairi Djoerban mengatakan kenaikan kasus hari ini belum perlu menaikkan level Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di daerah."Saya rasa belum perlu menaikkan level PPKM, meski ada tambahan 5.085 kasus baru," katanya.

Zubairi mengatakan upaya yang perlu dilakukan adalah mengetatkan kembali protokol kesehatan di fasilitas publik saat beraktivitas."Namun bukan berarti anda duduk di bus atau kereta bebas batuk dan tanpa masker. Kita tetap perlu berhati-hati, saling jaga, dan tidak jemawa sambil berdoa semoga gelombang besar tidak datang," katanya.

Satuan tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 melaporkan kasus positif COVID-19 di Indonesia bertambah sebanyak 5.085 orang pada Selasa (19/7) sehingga total keseluruhan mencapai 6.143.431 orang. Tambahan kasus positif COVID-19 terbanyak berasal dari DKI Jakarta, yaitu 2.485 orang, Jawa Barat 971 orang, Banten 649 orang, Jawa Timur 344 orang, Bali 167 orang, dan Jawa Tengah 92 orang.

Kasus aktif di Indonesia mengalami tambahan sebanyak 2.483 orang sehingga jumlah keseluruhan hingga saat ini menjadi 30.989 orang. Satgas juga melaporkan sebanyak 6.355 orang menjadi suspek COVID-19, dan 127.033 spesimen telah diperiksa per hari ini.

Sementara kasus sembuh COVID-19 di Indonesia bertambah 2.596 orang sehingga total mencapai 5.955.577 orang. Secara nasional ada enam kasus meninggal akibat COVID-19 di Indonesia, sehingga total menjadi 156.865

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement