Senin 01 Dec 2025 05:25 WIB
Feature

Pemakaman Gaya Baru: Upacara Langit Hingga Kuburan Alami

Cara seseorang dimakamkan kian beragam, dari mengirim abu jenazah ke luar angkasa, dikuburkan di tengah hutan, hingga didinginkan menjadi butiran debu. Perkembangan tren pemakaman ini menyimpan makna mendalam.

Rep: deutsche welle/ Red: deutsche welle
BildFunkMV/IMAGO
BildFunkMV/IMAGO

Sebuah tebing batu besar menjulang di atas sebuah dataran kecil di wilayah Haute-Provence, Prancis selatan. Beberapa batu tergeletak di rerumputan seolah jatuh secara alami dari tebing tersebut. Di bawah batu-batu itu bersemayam abu dari seorang pemuda. Keluarganya memilih tempat favoritnya tersebut sebagai persemayaman terakhir. Di Jerman, hal tersebut tidak diperbolehkan.

Hukum Jerman mewajibkan jenazah dimakamkan di pemakaman resmi, pemakaman hutan, atau area laut tertentu. Menyimpan guci berisi abu jenazah di halaman rumah pun tidak diizinkan, begitu pun menaburkannya ke udara.

Baca Juga

Ditaburkan dari balon udara atau jadi berlian

Saat Jerman masih ketat soal pemakaman, negara lain mulai "kreatif" mengeksplor pilihan persemayaman terakhir.

Di Swiss, beberapa pelayat dapat menaburkan abu di padang rumput Alpen dan di tebing-tebing berbatu. Di sana juga di Belanda, abu jenazah dapat dilepaskan dari balon udara. Setelah balon berada lokasi yang dipilih, abu dapat ditebarkan ke udara, dan koordinatnya serta dokumentasi resminya akan dikirim kepada keluarga bersangkutan. Pilihan lainnya adalah dengan melepas abu jenazah mengunakan pesawat kecil.

Beberapa perusahaan Amerika Serikat (AS) menawarkan cara perpisahan yang lebih "premium" yakni dengan mengirim sebagian kecil abu jenazah ke luar angkasa. Hal ini mungkin dilakukan di Jerman, mengingat celah hukum yang ada. Sebagaian besar abu jenazah pun tidak meninggalkan Bumi dan tetap berada dalam guci dan dikubur di pemakaman resmi.

Kini semakin banyak perusahaan yang menawarkan berlian memorial atau berlian dari kremasi. Selama beberapa bulan, karbon yang diekstrak dari abu atau rambut seseorang diproses menjadi berlian sintetis yang dapat dijadikan perhiasan.

Tren pemakaman berkelanjutan

Bagi mereka yang menyukai cara hidup keberlanjutan bahkan setelah meninggal dunia, kini punya banyak pilihan. Di Skandinavia dan Belanda, pemakaman metode baru bermunculan, berfokus pada bahan-bahan alami dan desain yang ramah lingkungan.

Di seluruh Eropa, pemakaman alami dan ramah lingkungan semakin diminati. Di padang rumput dan hutan, jenazah dimakamkan dalam peti mati yang dapat terurai secara alami tanpa pelitur atau logam, juga tanpa pembalsaman atau bahan kimia.

Pertimbangan akan lingkungan juga berpengaruh pada proses kremasi. Menurut Asosiasi Kualitas Fasilitas Kremasi di Jerman, kremasi mencapai 81% pemakaman di Jerman pada 2024. Krematorium modern kini menggunakan sistem pemulihan panas dan penyedia layanan pemakaman menawarkan lebih banyak guci jenazah yang terurai secara alami. Guci tersebut kemudian dikuburkan di dekat atau bawah pohon pada pemakaman hutan. Jenazah pun menyatu secara alami dengan lanskap hutan.

Di beberapa tempat, pemakaman dapat dilakukan secara anonim sedang di tempat lainnya, diberikan plakat kecil untuk menandai lokasi makam.

Menjadi kompos manusia

Beberapa rumah duka kini menawarkan opsi yang lebih alami, dikenal sebagai "kompos manusia." Jenazah dibungkus dengan jerami, rumput kering, bunga, serta sedikit arang, seperti kepompong alami. Setelah beberapa hari, kepompong digoyangkan secara lembut dan berkala, untuk mendistribusikan kelembapan di dalamnya.

Mikroorganisme alami dalam tubuh, bersama dengan bahan tanaman, menguraikan jenazah menjadi tanah halus dalam waktu sekitar 40 hari. Sebuah filter udara biologis diberikan untuk mencegah bau. Sisa tulang digiling menjadi bubuk halus dan dicampur ke dalam tanah. Tanah hasil proses ini ditempatkan di lahan pemakaman dan ditanami sering kali dengan bunga mawar, lavender atau tanaman lain yang dipilih almarhum sebelum meninggal.

Dijadikan butiran debu lewat pembekuan kilat

Ahli biologi Swedia, Susanne Wiigh-Masak, yang meninggal pada 2020, dianggap sebagai pelopor metode pemakaman ramah lingkungan lainnya yang disebut promession.

Dalam proses ini, tubuh pertama-tama dibekukan secara kilat dengan suhu minus 18 derajat Celsius, lalu dicelupkan ke dalam nitrogen cair pada minus 196 derajat. Suhu ekstrem membuat tubuh begitu rapuh sehingga dengan getaran kecil tubuh dapat dipecah menjadi bubuk halus. Proses ini dilakukan dalam ruang hampa, nir kelembapan, dan tanpa logam apa pun, seperti tambalan gigi.

Sisa jenazah kemudian dapat ditempatkan dalam peti mati kecil yang dapat terurai secara alami, terbuat dari pati jagung atau kentang, dan dikuburkan di tanah. Meskipun prosedur ini telah dipatenkan di lebih dari 30 negara, praktiknya belum diterapkan di mana pun.

Krionika, metode lain yang juga melibatkan pembekuan dan digunakan di Amerika Serikat dan Rusia, berbeda dari promession karena tubuh dibekukan di bawah minus 130 derajat dan tetap utuh, dengan harapan dapat dihidupkan kembali di masa depan. Namun para ilmuwan menganggap kemungkinan tersebut sangatlah kecil.

Cara seseorang dimakamkan mencerminkan bagaimana mereka menjalani hidup. Baik makam mewah atau makam di bawah pepohonan bukanlah sekadar nilai estetik, tetapi juga menggambarkan perubahan cara masyarakat memandang agama, kepemilikan, dan alam. Pada akhirnya ini adalah tentang bagaimana kita mengenang mereka yang telah berpulang.

 

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman
Diadaptasi oleh Sorta Caroline
Editor: Rizky Nugraha

Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan deutsche welle. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab deutsche welle.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement