Hujan deras berhari-hari telah memicu bencana banjir di sembilan provinsi Thailand dan delapan negara bagian di Malaysia, memaksa puluhan ribu orang mengungsi.
Pemandangan serupa terjadi di Pulau Sumatra, Indonesia, di mana tim penyelamat berjuang mencapai daerah-daerah terdampak di 12 kota dan kabupaten.
Musim monsun tahunan diperparah oleh badai tropis di kawasan-kawasan terdampak tersebut dalam beberapa hari terakhir.
Angka kematian di Thailand terus meningkat
Jumlah kematian di Thailand mencapai lebih dari 140 jiwa. Yang paling terdampak adalah Provinsi Songkhla, Thailand di mana pihak berwenang di Rumah Sakit Songklanagarind mengatakan bahwa ruang jenazah sudah penuh dan kini truk berpendingin digunakan.
"Ruang jenazah sudah melebihi kapasitasnya, jadi kami membutuhkan lebih banyak ruangan,” ujar seorang petugas kamar jenazah yang dikutip AFP.
Seorang jurnalis AFP merekam truk-truk pendingin berwarna putih yang diparkir di depan gedung utama rumah sakit.
Pulau Sumatra di antara yang paling parah terdampak
Di Indonesia, pejabat mengatakan banjir dan tanah longsor di tiga provinsi telah merenggut lebih dari 80 nyawa, dengan puluhan orang masih hilang di Sumatra.
Kerugian terburuk terjadi di Sumatra Utara, di mana 55 kematian dilaporkan dan 41 orang masih hilang. Demikian menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Kabupaten Tapanuli Tengah mengalami korban terbanyak dengan lebih dari 30 kematian, sementara lebih dari 30 orang di wilayah tersebut belum ditemukan.
Sementara itu, di Sumatra Barat, lebih dari 20 orang dipastikan meninggal akibat banjir bandang di sejumlah daerah, imbuh BNPB. Jumlah korban diperkirakan masih akan bertambah.
Jalan terputus mempersulit bantuan
Tim pencarian dan penyelamatan berjuang mencapai komunitas-komunitas terpencil yang terputus karena tumpukan material yang memblokir jalan.
Kantor berita Reuters melaporkan bahwa warga di Batang Toru — tempat sedikitnya lebih dari 20 orang meninggal — terpaksa menguburkan sebagian korban dalam liang kubur massal.
Dikutip dari Detik.com Asosiasi Perusahan Jasa Pengiriman Ekspres Indonesia (ASPERINDO) mengumumkan di beberapa wilayah terdampak banjir dan longsor di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatera Barat, sebagian pengiriman bantuan hanya bisa melalui jalur udara. Sementara untuk darat tidak dapat diakses sama sekali.
Pemanasan global berpengaruh
Dikutip dari AFP, perubahan iklim telah memengaruhi pola badai, termasuk durasi dan intensitas musim, yang menyebabkan curah hujan yang lebih tinggi, banjir bandang, dan hembusan angin yang lebih kencang.
Iklim yang lebih hangat menahan lebih banyak kelembapan, menghasilkan hujan yang lebih deras, sementara lautan yang lebih hangat dapat meningkatkan kekuatan sistem badai.
"Ilmuwan iklim telah memperingatkan bahwa peristiwa cuaca ekstrem... akan terus memburuk seiring dengan peningkatan suhu," kata Renard Siew, seorang penasihat perubahan iklim di Pusat Studi Tata Kelola dan Politik di Malaysia. "Itulah yang telah kita saksikan."
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Ayu Purwaningsih
Editor: Yuniman Farid