Jumat 03 Nov 2023 19:17 WIB

Sekjen Gelora Prediksi Hoaks Melonjak Akibat Pertarungan Dua Tokoh Ini

hoaks akan terus meningkat akibat pertarungan Jokowi versus Megawati.

Rep: Febryan A/ Red: Erik Purnama Putra
Sekretaris Jenderal DPP Partai Gelora, Mahfudz Siddiq.
Foto: Republika/ Wihdan
Sekretaris Jenderal DPP Partai Gelora, Mahfudz Siddiq.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sekretaris Jenderal DPP Partai Gelora, Mahfudz Siddiq memprediksi, penyebaran konten hoaks dan ujaran kebencian akan melonjak tajam selama November 2023. Pasalnya, kini sedang terjadi pertarungan antara dua tokoh yang punya pengaruh besar di RI.

Mahfudz awalnya menjelaskan bahwa diksi yang muncul di media massa dan media sosial terkait pemilu sudah tidak lagi soal pesta demokrasi, melainkan kompetisi dan kontestasi. Menurut dia, perubahan diksi itu terjadi karena ada power struggle yang melibatkan dua tokoh yang ikut pertarungan kekuasaan pada Pilpres 2024.

Baca Juga

"Bobot pertarungannya akan semakin sengit, apabila dari satu kekuatan politik itu adu power strategi. Misalnya, kalau saya baca di media ada pertarungan antara Ibu Megawati dan Pak Jokowi," kata Mahfudz lewat keterangan tertulisnya di Jakarta, Jumat (3/11/2023).

Menurut dia, pertarungan antara Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri dan Presiden Joko Widodo (Jokowi) merupakan satu kompetisi atau kontestasi perebutan kekuasaan. Pertarungan tersebut juga terjadi di ranah digital.

"Pertarungan tersebut semakin keras dalam ruang digital, maka rasanya serangan pertarungan di dunia digital ini menjadi tidak bisa terelakan," ujar Mahfudz.

Karena itu, Mahfudz tidak heran, terjadi peningkatan jumlah konten hoaks selama periode Januari 2023-Oktober 2024 sebagaimana dilaporkan Kementerian Kominfo dan Mabes Polri. Dia memprediksi, jumlah konten hoaks akan terus meningkat akibat pertarungan Jokowi versus Megawati.

"Saya prediksi pertarungan cyber melalui hoaks, ujaran kebencian akan terjadi lompatan yang sangat tajam dalam perang di dunia digital pada bulan November ini," kata mantan Ketua Komisi I DPR RI itu.

Dalam kesempatan itu, Mahfudz juga mengingatkan, konten haoks dan ujaran kebencian kini sudah mulai dibuat menggunakan teknologi kecerdasan buatan atau artificial Intelligence (AI). Salah satu contohnya adalah video pidato Presiden Jokowi yang tampak berbicara menggunakan bahasa Mandarin dengan lancar.

Beberapa hari kemudian, video yang sama menampilkan Jokowi berbicara dalam bahasa Arab. Menurut dia, penggunaan AI untuk memproduksi hoaks dan ujaran kebencian akan meningkat jelang hari pencoblosan Pemilu 2024.

"Produknya akan banyak menggunakan produk audio visual atau video yang mulai disebarkan di media sosial untuk merangsang, menstimulasi emosional masyarakat," ujar eks politikus PKS tersebut.

Dengan semua masalah tersebut, Mahfudz menilai perlu ada upaya mitigasi agar tidak terjadi pembelahan masyarakat seperti saat Pemilu 2019. Dia mengusulkan agar KPU RI dan Bawaslu RI membentuk satuan tugas khusus keamanan informasi Pemilu 2024.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement