Senin 29 May 2023 21:57 WIB

Belasan Remaja dari Sembilan Provinsi lndonesia Jadi Ashoka Young Changemaker 2023

Mereka dianggap menjadi penggerak perubahan.

Sebanyak 13 remaja usia 10-19 tahun dari sembilan provinsi di Indonesia, terpilih menjadi Ashoka Young Changemaker 2023.
Foto: Dok. Ash
Sebanyak 13 remaja usia 10-19 tahun dari sembilan provinsi di Indonesia, terpilih menjadi Ashoka Young Changemaker 2023.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-- Sebanyak 13 remaja usia 10-19 tahun dari sembilan provinsi di Indonesia, terpilih menjadi Ashoka Young Changemaker 2023. Ashoka Young Changemaker adalah apresiasi terhadap anak-anak muda yang telah menggerakkan perubahan dengan dampak yang amat beragam. 

Mulai dari mencegah pernikahan dini, menyelamatkan lingkungan tempat mereka tinggal, menciptakan nilai baru yang tidak disadari sebelumnya, dan menggalakkan literasi termasuk bagi pemuda difabel, mengurangi kecanduan gawai. 

Baca Juga

"Lalu, mencegah kekerasan berbasis gender, serta membantu rekan sebaya menemukan potensi diri mereka," kata Direktur Ashoka Asia Tenggara, Nani Zulminarni, Senin (29/5/2023). 

Pemilihan Ashoka Young Changemaker, kata dia ,merupakan bagian dari kerja Ashoka membuka paradigma baru bahwa kemampuan menggerakkan perubahan merupakan kunci tumbuh kembang anak muda yang memampukan mereka menghadapi tantangan jaman yang selalu berubah.

"Setelah melalui tiga kali wawancara dan satu kali wawancara panel, 13 remaja dinobatkan menjadi Ashoka Young Changemaker 2023," ujarnya.

Proses pemilihan sendiri berlangsung sejak bulan Maret 2023. Tiga belas remaja yang menjadi Ashoka Young Changemaker (AYC) 2023, setelah menyisihkan lebih dari 164 pendaftar dari seluruh Indonesia. 

"Ketiga belas Ashoka Young Changemaker (AYC) telah membuktikan anak muda tidak hanya hobi rebahan atau berfokus ke dirinya sendiri," ungkap Nani. 

AYC, kata dia juga membuktikan bahwa anak muda juga resah dan ingin berkontribusi untuk menyelesaikan beragam masalah di sekitarnya. Termasuk masalah kecanduan gawai, pernikahan dini, sampah puntung rokok, literasi, ekonomi, kekerasan berbasis gender dan banyak lagi yang lain. 

Berangkat dari empati akan masalah yang dihadapi komunitas atau orang-orang di sekitarnya, 13 kandidat AYC yang berumur 10-19 tahun ini lalu membentuk tim dan merancang inovasi sosial yang menggerakkan perubahan bagi masyarakat di sekitarnya. 

Mereka berasal dari sembilan provinsi, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bengkulu, Jambi, Banten, Kalimantan Barat, dan Maluku. 

"Masing-masing telah menciptakan dampak yang dihargai baik di skala lokal, nasional, maupun internasional," tandasnya.

Ketiga belas Ashoka Young Changemaker 2023 ini telah disepakati secara bulat oleh 10 panelis independen, yang merupakan tokoh-tokoh dari berbagai bidang. Seperti H.A. Syarif Munawi (Wakil Sekjen PB NU), H. Didik Suhardi, PhD (Ketua Majelis Pendidikan Nasional Muhammadiyah), Adi Prinantyo (Redaktur Pelaksana Harian Kompas), Jovial da Lopez (Chief Creative Officer, Narasi), Ifa Misbach (dosen Universitas Pendidikan Indonesia) serta berbagai ahli lainnya. 

Ashoka sendiri merupakan organisasi nirlaba yang didirikan Bill Drayton, pionir gerakan kewirausahaan sosial (social entrepreneurship) telah mendukung lebih dari 3,800 wirausahawan sosial dari 93 negara di dunia yang tergabung sebagai Ashoka Fellows. Di antaranya, 205 wirausahawan sosial berasal dari Indonesia. Belajar dari para visioner pencetus gerakan dan inovasi sosial yang memulai inisiatif di usia muda, Ashoka menyadari bahwa setiap anak harus dapat tumbuh berkembang menjadi pembuat solusi, pemmpin pembaharu, dan kontributor aktif bagi masyarakat yang lebih adil, setara, berkelanjutan, dan sejahtera.

Di Indonesia, selain mengadakan pemilihan Ashoka Young Changemaker, Ashoka juga bekerja sama berbagai ekosistem di bidang tumbuh kembang anak muda, seperti sekolah-sekolah menengah di jaringan Muhammadiyah, NU, dan sekolah Katholik serta gerakan keluarga untuk memastikan agar anak-anak muda mendapat dukungan untuk mengembangkan wawasan dan keterampilan mereka untuk menggerakkan perubahan, seperti para Ashoka Young Changemaker. 

"Dalam era yang penuh perubahan dan disrupsi ini, keterampilan menggerakkan perubahan adalah kunci menghadapi masa depan yang telah datang," imbuh Nanti.

"Sebuah negara yang memiliki anak-anak muda yang mampu menggerakkan perubahan adalah negara yang tidak perlu khawatir akan laju perubahan dunia," sambung Bill Drayton

sumber : Ashoka.org
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement