Selasa 09 May 2023 13:19 WIB

Jembatan Otista Bogor Nantinya Dibangun Empat Lajur untuk Trem

Jembatan Otista eksisting warisan Belanda yang dihancurkan terdiri dua lajur.

Rep: Shabrina Zakaria/ Red: Erik Purnama Putra
Alat berat sudah dikerahkan untuk menghancurkan Jembatan Otista, Kota Bogor, Rabu (3/5/2023).
Foto: Republika/Shabrina Zakaria
Alat berat sudah dikerahkan untuk menghancurkan Jembatan Otista, Kota Bogor, Rabu (3/5/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR -- Jembatan Otto Iskandar Dinata (Otista) di Kecamatan Bogor Timur, Kota Bogor, Jawa Barat saat ini dalam proses pembongkaran dan akan dibangun ulang, nantinya dibuat lebih lebar. Jembatan yang menjadi bottleneck hingga memicu kemacetan menuju pusat Kota Bogor akan diperluas dan memiliki empat lajur.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Bogor, Rena Da Frina, mengatakan, saat ini, jembatan eksisting yang dibongkar itu terdiri dua lajur dengan lebar 15 meter dengan trotoar di kiri kanan jalan. "Nah jembatan baru nanti akan jadi 22 meter, dengan empat lajur. Ada lajur sepeda, kemudian dikondisikan ada jalur trem," kata Rena di Kota Bogor, Selasa (9/5/2023).

Rena menyebutkan, panjang Jembatan Otista nantinya juga akan berubah. Dari semula sepanjang 34 meter, keseluruhan menjadi 50 meter. Dia menjelaskan, perubahan panjang jembatan itu merupakan rekomendasi dari Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC).

Hal itu karena di bawah jembatan terdapat aliran sungai yang menyempit tepat di bawah jembatan. "Saran dari BBWSCC supaya di-plong-kan, jadi penampang sungainya kita keruk lagi supaya aliran sungainya lurus. Makanya ada penambahan jalan sampai 15 meter," jelas Rena.

Dia menjelaskan, Jembatan Otista dirobohkan dan dibangun kembali sebagai bentuk persiapan Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor akan kehadiran perkeretaapian dalam kota atau trem. Mengingat, jembatan tersebut sudah hadir sejak zaman Belanda, dan sudah mengalami beberapa kali revitalisasi.

"Kenapa kita tidak menambah jembatan untuk memperlebar? Kenapa harus dirobohkan? Nah, ketika jembatan itu kita paksakan untuk trem, itu gak akan bisa. Trem bobotnya 12-13 ton, itu nggak mampu," kata Rena memaparkan.

Selain itu, lanjut dia, opsi untuk menambah lebar jembatan juga tidak memungkinkan. Pasalnya, jembatan yang ada saat ini tidak akan mampu menahan beban dari alat berat yang dibutuhkan.

"Umur jembatan juga sudah demakin tua 40 tahun, nah kita kan mengadakan pembongkaran ini berharap memperpanjang umur jembatan sampai 100 tahun. Dengan kondisi perencanaan ke depan jalur transportasi trem bisa diakomodasi," kata Rena.

Latar belakang pembangunan Jembatan Otista ialah karena jembatan itu menjadi sumber kemacetan di Kota Bogor. Sejak diberlakukan Sistem Satu Arah (SSA) di Kota Bogor, jembatan ini menjadi bottleneck dan kerap menyebabkan kemacetan panjang.

Berdasarkan kajian, tidak ada pilihan lain kecuali melebarkan Jembatan Otista untuk melancarkan arus lalu lintas. Sebetulnya pelebaran jembatan ini ingin dilakukan pada 2021, namun ditunda karena proses rasionalisasi sehubungan dengan sumber bantuan yang berasal dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat.

Untuk membangun Jembatan Otista, Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor mendapat bantuan dari Pemprov Jawa Barat sekitar Rp 49 miliar. Adapun proses lelang sudah berlangsung dan dimenangkan oleh PT Mina Fajar Abadi.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement