Rabu 26 Apr 2023 07:54 WIB

Kapendam: KST Gunakan Cara Licik Ajak Pelajar SMP/SMA Serang TNI

Gerombolan larang anak-anak sekolah dan dipaksa gabung KST Papua.

Rep: Antara/ Red: Erik Purnama Putra
Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) XVII/Cenderawasih, Kolonel Kav Herman Taryaman.
Foto: Dok Antara
Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) XVII/Cenderawasih, Kolonel Kav Herman Taryaman.

REPUBLIKA.CO.ID, JAYAPURA -- Kodam XVII/Cenderawasih berharap, semua elemen masyarakat tidak terpengaruh ajakan kelompok separatis teroris (KST) untuk melakukan perlawanan, baik terhadap aparat TNI maupun Polri.

Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) XVII/Cenderawasih Kolonel Kav Herman Taryaman mengatakan, kini terkuak KST tidak hanya menggunakan warga, baik perempuan maupun anak-anak dijadikan tameng, tetapi juga mengajak para pelajar SMP/SMA untuk menyerang prajurit TNI yang sedang bertugas.

Hal itu terbukti salah satunya saat prajurit TNI AD melaksanakan operasi pencarian pilot Susi Air di Nduga maupun wilayah lain di Papua. "Bukan hanya dengan provokatif di media sosial (medsos), melainkan juga mengajak secara langsung dengan mendatangi para pelajar SMP/SMA untuk menyerang aparat TNI yang sedang bertugas," katanya di Kota Jayapura, Provinsi Papua, Rabu (26/4/2023).

Baca juga : Produsen Mie Malaysia Lakukan Uji Mandiri Terhadap Produk Usai Laporan Zat Karsinogenik

 

Menurut Herman, hal itu sangat disesalkan sehingga tidak salah apabila warga di Kabupaten Nduga maupun Intan Jaya dan daerah lainnya mulai melakukan perlawanan kepada gerombolan tersebut. Pasalnya keluarga ataupun anak-anaknya menjadi tumbal aksi KST.

"Kita semua harus berhati-hati dengan ajakan KKB terhadap para pelajar di mana jika ditemukan hal seperti itu, harus dilaporkan dan jangan sampai terpengaruh," ujarnya.

Herman menjelaskan, daerah yang dikuasai KST sulit dijangkau, bahkan oleh pemerintah daerah, terutama di tingkat distrik yang menjadi basis kelompok tersebut. Dia menyebut, jika dilihat peran kepala distrik maupun kepala kampung di lokasi tertentu cenderung tidak berjalan.

"Seperti kejadian sesaat sebelum penyanderaan pilot Susi Air, yakni adanya pembangunan puskesmas itu saja diganggu, sekolah-sekolah (tempat pendidikan) dibakar dengan alasan apabila ada masyarakat menjadi pintar, tidak akan bisa dipengaruhi lagi untuk bersama-sama memberontak dengan tujuan makar atau separatis," kata Herman.

Baca juga : Infografis Elektabilitas Bakal Cawapres 2024

Dia menambahkan, cara KST memang licik karena selalu menyerang TNI atau Polri ketika melakukan penegakan hukum. Sehingga setiap dihadapi untuk ditangkap selalu menggunakan mama dan anak yang ditampilkan di depan sebagai tameng karena beralasan aparat keamanan tidak mungkin mau berhadapan dengan mereka.

"Terkait cara perekrutan yang dilakukan dengan mengintimidasi warga dan tidak memperbolehkan anak-anak bersekolah, bahkan justru dipaksa untuk bergabung dengan gerombolan KST," ujar Herman.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement