Sabtu 30 Aug 2025 19:06 WIB

Hubungan dengan India Memburuk, Pakistan Kesulitan Atasi Banjir

Banjir Pakistan telah menewaskan 820 orang.

Rep: Lintar Satria/ Red: Satria K Yudha
Penduduk desa Mateen Khan duduk di atas reruntuhan rumah mereka yang rusak akibat banjir bandang di lingkungan Pir Baba, wilayah distrik Buner, Pakistan, Ahad (17/8/2025).
Foto: AP Photo/Muhammad Sajjad
Penduduk desa Mateen Khan duduk di atas reruntuhan rumah mereka yang rusak akibat banjir bandang di lingkungan Pir Baba, wilayah distrik Buner, Pakistan, Ahad (17/8/2025).

REPUBLIKA.CO.ID, ISLAMABAD – Banjir besar yang melanda Pakistan disebut makin parah akibat keputusan India keluar dari Perjanjian Perairan Indus (Indus Waters Treaty/IWT) dan jebolnya bendungan di negara itu. Perjanjian yang ditandatangani sejak 1960 tersebut selama ini menjadi acuan pembagian dan pengelolaan enam sungai di lembah Indus antara kedua negara.

Hujan deras yang mengguyur India dan Pakistan dalam sepekan terakhir memicu luapan air ke wilayah timur Pakistan. Banjir merendam kota Lahore dan mengancam menenggelamkan Jhang, yang menurut pemerintah setempat menjadi bencana terburuk dalam 40 tahun terakhir.

Baca Juga

India menangguhkan IWT tahun ini setelah serangan bersenjata yang dilakukan 26 orang milisi, yang dituding New Delhi mendapat dukungan Islamabad. Pakistan membantah tuduhan tersebut.

Menteri Perencanaan Pakistan Ahsan Iqbal menuding India tidak transparan dalam membagikan data aliran air yang sebelumnya diatur dalam IWT. “Jika Perjanjian Perairan Indus masih berlaku, kami bisa mengurangi dampaknya,” kata Iqbal, Jumat (29/8/2025).

Kerusakan bendungan turut memperparah keadaan. Rekaman media India pada Kamis (28/8/2025) menunjukkan bagian tengah Bendungan Madhopur di Sungai Ravi hanyut diterjang arus. Pemerintah Pakistan menuding kerusakan itu melepaskan air secara tak terkendali hingga membanjiri Lahore.

Seorang pejabat India membantah tuduhan adanya upaya sengaja untuk membanjiri Pakistan. Ia mengakui dua gerbang bendungan rusak, namun menekankan hujan ekstrem menjadi penyebab utama. “India melakukan apa pun yang bisa dilakukan dan semua informasi sedang diteruskan,” katanya.

New Delhi menyebut sudah mengirim empat peringatan banjir sejak Ahad (24/8/2025), termasuk pada Jumat kemarin. Namun, Islamabad menilai India tidak memberikan data teknis secara detail sesuai kewajiban perjanjian.

Iqbal menekankan perubahan iklim membuat musim monsun semakin sulit diprediksi sehingga pertukaran data lintas negara menjadi sangat penting. “Perubahan iklim bukanlah masalah bilateral, ini berhubungan dengan kemanusiaan,” ujarnya.

Untuk mencegah meluasnya bencana, otoritas Pakistan meledakkan sebagian tanggul Sungai Chenab agar air bisa dialirkan ke daratan sekitar.

Badan Penanggulangan Bencana Nasional Pakistan mencatat 820 orang telah tewas, sementara wilayah timur yang terdampak banjir merupakan rumah bagi setengah dari 240 juta penduduk Pakistan sekaligus lumbung pangan utama. Kerusakan pada lahan pertanian dilaporkan sangat luas.

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement