Sabtu 05 Apr 2025 16:37 WIB

Kala Rakyat Myanmar Percaya Gempa Dahsyat Pertanda Senjakala Pemerintahan Junta

Rakyat Myanmar percaya alam menghukum pemimpin junta Min Aung Hlaing lewat gempa.

Pemuka agama Budda berjalan dengan latar bangunan yang runtuh setelah gempa kuat di Naypyitaw, Myanmar, Sabtu (29/3/2025).
Foto: AP Photo/Aung Shine Oo
Pemuka agama Budda berjalan dengan latar bangunan yang runtuh setelah gempa kuat di Naypyitaw, Myanmar, Sabtu (29/3/2025).

REPUBLIKA.CO.ID, "Gempa bumi ini adalah peringatan bahwa hukuman untuk Min Aung Hlaing bakal segera tiba," kata U Sein Lwin, seorang pensiunan petugas imigrasi kepada Aljazeera, belum lama ini.

Bagi orang-orang seperti U Sein Lwin, manakala kekejaman orang sudah melampaui batas kemampuan manusia dan saat bersamaan tak ada yang bisa mengadilinya, maka alam yang bakal menghukum mereka. Gempa bumi dahsyat yang melanda Myanmar pekan lalu memang kian menyulitkan posisi peimpin junta militer, Jenderal Min Aung Hlaing, yang dikenal sebagian orang di negerinya sebagai pemimpin yang mempercayai hal-hal mistis dan tahayul.

Baca Juga

Tidak seperti saat Siklon Nargis pada 2008, gempa 28 Maret menerjang jantung kekuasaan junta di Naypyidaw, yang berada di bawah kewenangan langsung Min Aung Hlaing. Direktur Palang Merah Internasional untuk regional Asia Pasifik Alexander Matheou bahkan menyebut Gempa Myanmar memiliki tingkat kehancuran terparah di Asia dalam 100 tahun terakhir.

Dengan kedalaman pusat gempa yang dangkal dan magnitudo yang mencapai magnitudo 7, dampak gempa Myanmar terbilang mengerikan. Junta Myanmar menyebutkan sampai 3 April sudah 3.085 orang tewas akibat gempa ini, namun, Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) memperkirakan korban tewas bisa lebih dari 10.000 orang.

Jumlah itu jauh lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah korban tewas akibat badai Siklon Nargis pada 2008 yang menewaskan sekitar 130 ribu warga Myanmar. Uniknya, saat itu junta menolak bantuan internasional.

Tetapi kini, mereka melanggar tabu itu dengan meminta bantuan internasional. 'Keputusasaan' itu melukiskan tantangan besar yang dihadapi junta yang mungkin mereka sadari sebagai mustahil bisa mereka atasi sendiri.

Apalagi dibandingkan dengan 17 tahun lalu, mereka menghadapi situasi kritis akibat perang saudara melawan pasukan koalisi anti-junta yang disebut-sebut telah menguasai 80 persen wilayah Myanmar. Junta menghadapi situasi yang jauh lebih pelik dan berbahaya akibat gempa 28 Maret.

Menurut kesaksian para warga, seperti diberitakan laman The Irrawaddy, gedung-gedung pemerintahan, jalan, jembatan, perumahan pegawai negeri, rumah sakit, hotel, bendungan, apartemen, dan fasilitas-fasilitas publik lain di ibu kota Myanmar itu rusak parah.

Bahkan gedung kementerian luar negeri dan badan penanggulangan bencana alam rusak parah tak bisa dioperasikan lagi, sementara kompleks elite yang dihuni para pemimpin serta mantan pemimpin Myanmar juga rusak parah.

photo
Kerusakan Ekonomi Akibat Gempa Besar di Dunia - (Anadolu Agency)

 

 

 

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement