Kamis 03 Apr 2025 07:00 WIB

Kesaksian Dokter Forensik, Ini Bukti Kuat Tentara Israel Eksekusi Paramedis Palestina

Ada bukti korban petugas paramedis Palestina ditembak dari jarak dekat.

Paramedis dan tentara Lebanon memeriksa lokasi serangan Israel terhadap kendaraan, di Sidon, Lebanon, 7 November 2024.
Foto: EPA-EFE/STR
Paramedis dan tentara Lebanon memeriksa lokasi serangan Israel terhadap kendaraan, di Sidon, Lebanon, 7 November 2024.

REPUBLIKA.CO.ID, JALUR GAZA -- Seorang dokter forensik yang memeriksa jenazah sekitar 15 paramedis dan pekerja penyelamat Palestina mengungkapkan, ada bukti sejumlah petugas kesehatan itu dibunuh dengan gaya eksekusi oleh tentara Israel.  Hal itu berdasarkan titik tembakan yang 'spesifik dan disengaja' dari jarak dekat.

Ahmad Dhaher, konsultan forensik yang memeriksa lima korban tewas di rumah sakit Nasser di Khan Younis setelah mereka digali, mengatakan semuanya meninggal karena luka tembak.

Baca Juga

“Semua kasus telah ditembak dengan beberapa peluru, kecuali satu, yang tidak dapat dipastikan karena tubuhnya dimutilasi oleh hewan seperti anjing, sehingga hampir hanya tersisa kerangka,” kata Dhaher kepada Guardian.

“Analisis awal menunjukkan mereka dieksekusi, bukan dari jarak jauh, karena lokasi luka tembak itu spesifik dan disengaja,” katanya.

“Salah satu pengamatan adalah bahwa peluru diarahkan ke kepala satu orang, yang lain ke jantungnya, dan orang ketiga ditembak dengan enam atau tujuh peluru di badan.”

Ia menekankan bahwa ada ruang untuk ketidakpastian karena pembusukan jenazah. Dalam kasus lain ia meninjau sebagian besar peluru menargetkan sendi, seperti bahu, siku, pergelangan kaki, atau pergelangan tangan.

Dua saksi mata yang melihat jenazah ditemukan mengatakan kepada Guardian pada Selasa bahwa mereka telah melihat jenazah yang tangan dan kakinya telah diikat, yang menunjukkan bahwa mereka telah ditahan sebelum meninggal.

Seorang juru bicara Bulan Sabit Merah, Nebal Farsakh, mengatakan pada hari Rabu bahwa salah satu paramedis tangannya diikat bersama dengan kakinya menempel di tubuhnya.

Dhaher mengatakan tidak ada bukti yang jelas tentang pengekangan pada kelima jenazah yang diperiksanya. "Saya tidak dapat mengenali tanda-tanda ikatan di tangan mereka karena kondisi kelima jenazah yang saya periksa sudah membusuk, jadi saya tidak dapat memastikannya," katanya.

Pembunuhan paramedis dan pekerja penyelamat telah memicu kemarahan di seluruh dunia dan tuntutan pertanggungjawaban. Pada Rabu, menteri luar negeri Inggris, David Lammy, mengatakan Gaza adalah tempat paling mematikan di Bumi bagi para pekerja kemanusiaan.

“Kematian pekerja bantuan baru-baru ini adalah pengingat yang jelas. Mereka yang bertanggung jawab harus dimintai pertanggungjawaban,” kata Lammy.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (@republikaonline)

Pembelaan Israel 

Pasukan Pertahanan Israel dan pemerintahan Benjamin Netanyahu mengatakan tentara IDF menembaki ambulans dan kendaraan penyelamat karena mereka bergerak mencurigakan ke arah pasukan IDF tanpa lampu depan atau sinyal darurat.

Pejabat pemerintah mengklaim telah membunuh seorang anggota militer Hamas yang mereka sebut sebagai Mohammad Amin Ibrahim Shubaki, dan 'delapan militan lainnya' dari Hamas dan Jihad Islam Palestina, dalam serangan pada 23 Maret.

Namun, Shubaki tidak termasuk di antara jenazah yang ditemukan dari kuburan massal di luar Rafah pada Sabtu dan Ahad. Justru delapan di antaranya diidentifikasi sebagai pekerja ambulans Bulan Sabit Merah, enam sebagai pekerja penyelamat pertahanan sipil, dan satu sebagai karyawan badan bantuan PBB Unrwa.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement