Senin 22 Jul 2024 15:37 WIB

Mengapa Houthi dari Negara Miskin Berani Lawan Israel, Sedangkan Negara Kaya Teluk Diam?

Drone Houthi berhasil melintasi sejumlah negara sebelum jatuh ke Tel Avi.

Kelompok Houthi Yaman.
Foto: AP
Kelompok Houthi Yaman.

REPUBLIKA.CO.ID, HUDAYDAH -- Sebuah pesawat tak berawak Yaman menyerang bangunan di ibu kota Israel, Tel Aviv pada Kamis pekan lalu dan menewaskan sedikitnya satu orang. Pasukan Houthi menyebut drone mereka melewati pertahanan udara Israel dan menyatakan bahwa Tel Aviv sebagai zona tidak aman dan target utama senjata mereka.

Israel pun tak menampik dengan serangan tersebut dan menyebut pertahanan mereka bobol karena kesalahan manusia.

Baca Juga

Video di media sosial menunjukkan drone jenis layang terbang di atas garis pantai dekat Tel Aviv sebelum tiba di kota tersebut dan menyebabkan sebuah ledakan besar.

Kelompok Houthi mengatakan, drone baru tersebut tidak dapat dideteksi oleh pertahanan udara Israel dan menamakannya Jafa, diambil dari nama Palestina untuk Tel Aviv sebelum diduduki oleh Israel. 

Jalur drone menunjukkan bahwa pesawat tanpa awak itu melewati lebih dari sekedar pertahanan Israel, menempuh jarak hampir 1000 mil atau sekitar 1600 km.

Drone Yaman tidak hanya melewati pertahanan udara Israel, tetapi juga melewati Angkatan Laut AS, Angkatan Laut Kerajaan Inggris. Rudal ini berhasil melewati pertahanan udara Saudi… melewati Yordania, melewati segalanya, dan berhasil menyerang ibu kota negara pendudukan Israel,” kata jurnalis dan editor The Cradle Esteban Carrillo kepada Sputnik.

“[Israel] menyebutnya akibat kesalahan manusia. Kami melihat sesuatu masuk melalui selatan dan (mereka) tidak menganggapnya sebagai ancaman. Ya, mereka salah.”

Kelompok Houthi telah menegaskan bahwa tindakan terhadap Israel dilakukan sebagai solidaritas terhadap warga Palestina di Gaza yang menderita akibat kampanye militer Israel yang digambarkan sebagai genosida oleh banyak pemimpin dunia dan organisasi hak asasi manusia.

Ironisnya, Yaman merupakan salah satu negara termiskin di dunia yang berani dengan gagah melawan Israel. Sementara di sekitarnya,terdapat beberapa negara Arab kaya di wilayah tersebut, yang memiliki sumber daya untuk berbuat lebih banyak.

Carrillo mengatakan dia tidak terkejut bahwa negara-negara Teluk menolak berbuat lebih banyak. “Saat ini, ini sudah menjadi status quo selama beberapa dekade, bukan? Kapan Saudi pernah membantu Palestina? Kapan Irak? Kapan orang Yordania, kan? Seperti, sejak [Perang Enam Hari], [yang] sepertinya sudah lama sekali, mereka pada dasarnya telah menormalisasi [hubungan dengan Israel], begitu pula dengan Mesir.”

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement