Kamis 25 Jan 2024 22:53 WIB

Pakar Sebut Pidato Politik AHY Jadi Gambaran Demokrat Layak Dipilih

AHY dalam pidatonya runtut, sistematis, dan yang menarik.

Ketua Umum Partai Demorkat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) saat berkampanye di GOR Kridosono, DIY, Jumat (19/1/2024).
Foto: Republika/Febrianto Adi Saputro
Ketua Umum Partai Demorkat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) saat berkampanye di GOR Kridosono, DIY, Jumat (19/1/2024).

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA —   Pidato politik Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dianggap sebagai terobosan menyegarkan di tengah hiruk pikuk kampanye Pemilu 2024.

"Di tengah kampanye yang riuh dengan gimmick dan hiburan, political show dengan format pidato ini terasa sebagai udara segar. Kita jadi tahu apa yang Demokrat tawarkan pada masyarakat, dengan cara penyajian yang enak ditonton dan perlu,” kata pakar perilaku politik Sufyanto, dalam siaran pers, Kamis (25/1/2024).

AHY sudah dua kali menyampaikan pidato politik yang disiarkan serentak di empat stasiun televisi nasional. Pertama tentang kesejahteraan untuk semua, yang ditayangkan tanggal 12 Januari. Kedua, tentang pertahanan, keamanan dan kerjasama internasional yang bertajuk Indonesia Kuat, Maju dan Makin Berperan di Dunia, pada 18 Januari lalu.

"Pidato pertama menguraikan bagaimana Demokrat kelihatannya memang memprioritaskan soal kesejahteraan rakyat, sebagai ujung tombak program-program kerja yang akan dilakukannya jika nanti menjadi bagian dari pemerintahan yang berkuasa," kata  doktor lulusan Universitas Airlangga ini.

 

Menurutnya, ini merefleksikan pencapaian-pencapaian pada era Presiden SBY, yang sebagian masih diteruskan oleh pemerintah Presiden Jokowi, meski dengan nama yang berbeda. “Sangat masuk akal bagi AHY untuk meneruskan program-program yang sudah baik dan diterima masyarakat itu," jelas pengamat yang akrab dipanggil Sufi ini.

Pada pidato kedua, menurut Sufi, kelihatannya ini memang area of expertise AHY. Menurutnya, cara menguraikannya runtut, sistematis, dan yang menarik. Jga dibahasakan secara populer, sehingga audiens muda yang hadir, terlihat tekun menyimak dan antusias, padahal ini topik yang terbilang berat.

"Seperti di pidato pertama, AHY kembali menekankan pencapaian-pencapaian di bidang pertahanan, keamanan dan kerjasama internasional pada era Presiden SBY, termasuk upgrading besar-besaran alat-alat utama sistem persenjataan (alutsista) serta meningkatkan kesejahteraan anggota TNI maupun Polri, dengan menaikkan gaji mereka sembilan kali, dengan total kenaikan 112 persen," ungkap Sufi.

Dalam pidato kali ini, menurutnya, bisa lihat pembuktian kenapa dulu AHY sering disebut sebagai perwira dengan jalur karir fast-track, seperti yang diungkapkan Panglima TNI Gatot Nurmantyo. Kelihatan sekali pemahaman dan passion AHY dalam bidang pertahanan, keamanan dan kerjasama internasional. “Tanpa berkedip dan dengan fasih, AHY menguraikan kenapa kita butuh pertahanan dan keamanan yang kuat, dan, yang lebih penting, bagaimana melakukannya. Topik yang berat jadi mudah dipahami, dan meminjam istilah anak sekarang, relate dengan anak-anak muda yang hadir," papar Sufi menganalisis.

Dari sisi kajian perilaku politik, menurutnya, antusiasme anak-anak muda yang hadir menarik untuk dicermati. Ini membantah anggapan bahwa anak-anak muda hanya suka topik-topik yang receh. Terbukti, mereka tertarik dengan topik-topik yang berat dan cukup abstrak seperti pertahanan, keamanan dan kerja sama internasional, ketika dibawakan dengan cara yang menarik, mudah dipahami dan passionate, seperti yang dilakukan AHY.

Meski demikian, Sufi memberi catatan tentang bahasa AHY yang masih cenderung formal dan mengikuti pakem baku. "Kalau mas AHY bisa membuat bahasanya menjadi lebih cair, dengan idiom dan analogi yang lebih populer, serta bertutur, niscaya akan lebih bagus lagi," kata Sufi memberikan umpan balik.

Sufi juga mencermati formasi duduk audiens yang rapat, dan nyaris tidak ada jarak dengan AHY, sehingga mencerminkan suasana yang hangat, dan akrab. Apalagi ditambahkan dengan bermunculannya sejumlah poster dengan potongan yang menarik dan teks yang segar. "Ini mirip seperti suasana konser musik, tapi isinya orasi politik," komentar Sufi.

Menurutnya, bukan sekali dua kali Partai Demokrat melakukan kegiatan atau pernyataan politik yang dikemas dengan segar dan populer. Tidak heran jika segmen anak muda merupakan salah satu basis kuat Partai Demokrat. “Tingkat elektabilitas Partai Demokrat di kalangan pemilih muda bahkan jauh lebih besar dari partai lain yang mengklaim sebagai partai anak muda," kata Sufi.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement