Senin 25 Dec 2023 07:15 WIB

Dukungan Kemerdekaan Palestina dari Musisi dan Politisi Bandung

Lagu ini akan menjadi sebuah simbol-simbol pemikiran untuk kemerdekaan.

Rep: Muhammad Fauzi Ridwan/ Red: Setyanavidita livicansera
Perempuan dan anak-anak berpartisipasi dalam unjuk rasa di Peshawar, Pakistan, Rabu (20/12/2023) yang diserukan oleh kelompok agama Pakistan Jamaat-e-Islami yang menentang serangan udara Israel di Gaza, dan untuk menunjukkan solidaritas terhadap rakyat Palestina.
Foto: AP Photo/Muhammad Sajjad
Perempuan dan anak-anak berpartisipasi dalam unjuk rasa di Peshawar, Pakistan, Rabu (20/12/2023) yang diserukan oleh kelompok agama Pakistan Jamaat-e-Islami yang menentang serangan udara Israel di Gaza, dan untuk menunjukkan solidaritas terhadap rakyat Palestina.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG- Sejumlah musisi dan politikus di Kota Bandung mendukung kemerdekaan negara Palestina, Jumat (22/12/2023) di acara titik kumpul dengan tema swara lewat Bandung menagih janji. Salah satu dukungan yang dilakukan, yaitu menciptakan lagu tentang kemerdekaan Palestina.

Seperti diketahui ribuan orang meninggal dunia akibat perang yang terjadi antara Palestina- Israel. Hingga saat ini, perang tersebut masih berlangsung.

Baca Juga

Salah satu penggerak acara titik kumpul Muhammad Farhan mengatakan kegiatan titik kumpul diharapkan dapat menghadirkan gagasan atau pemikiran tentang kemerdekaan Palestina. Selain itu, bakal ada lagu yang diciptakan dari musisi ternama di Bandung untuk mendukung Palestina.

"Lagu ini akan menjadi simbol-simbol pemikiran untuk memerdekakan semua bangsa Asia Afrika," ucap dia melalui keterangan resmi yang diterima belum lama ini. Ia menegaskan tidak akan berhenti hanya sampai membuat lagi untuk kemerdekaan Palestina.

Namun begitu, ia berharap lagu yang akan dibuat menjadi populer. "Disini ada ada Pidi Baiq, Bucky Wikagoe, Taufik Hidayat Udjo, Al Araf, Zaki Peniti dan musisi-budayawan lainnya," ungkap dia.

Farhan menyebut kegiatan Bandung menagih janji bukan media untuk kampanye. Namun, ia menjadikan hal itu sebagai titik tolak. "Ini adalah bagian dari kerja saya sebagai warga Bandung. Mau kamu terjemahkan sebagai titik tolak tapi bukan media kampanye," kata dia.

Ia memiliki tujuan memberikan kesadaran kepada masyarakat bahwa warga Bandung perlu peka terhadap isu kemanusiaan. Farhan menyebut permasalahan perang Palestina-Israel bukan perang agama tapi perang kemanusiaan.

"Setiap kita ngomong soal Gaza harus ada upaya menjaga pemikiran ini, supaya hidup terus, supaya tidak ada lagi orang yang mengatakan 'ngapain sih kita belain Palestina'," kata dia.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement