Ahad 29 Oct 2023 06:10 WIB

Kebakaran Lereng Gunung Merbabu, 400 Hektare Hutan Taman Nasional Terdampak

Ada 91 orang warga yang sudah dievakuasi dan ada juga yang mengungsi.

Rep: Bowo Pribadi/ Red: Agus raharjo
Warga melihat kebakaran Gunung Merbabu di Jlarem, Gladagsari, Boyolali, Jawa Tengah, Sabtu (28/10/2023).  Balai Taman Nasional Gunung Merbabu menutup semua jalur pendakian Gunung Merbabu akibat terjadinya kebakaran hutan dan lahan di wilayah tersebut.
Foto: ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho
Warga melihat kebakaran Gunung Merbabu di Jlarem, Gladagsari, Boyolali, Jawa Tengah, Sabtu (28/10/2023). Balai Taman Nasional Gunung Merbabu menutup semua jalur pendakian Gunung Merbabu akibat terjadinya kebakaran hutan dan lahan di wilayah tersebut.

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG--Sekitar 400 hektare lahan dan hutan Balai Taman Nasional Gunung Merbabu (BTNGMB) terbakar, menyusul terjadinya kebakaran di lereng Gunung Merbabu, Jawa Tengah. Luasan tersebut mencakup lahan dan hutan BTNGMB, yang secara administratif berada di wilayah Kabupaten Semarang, Kabupaten Magelang, dan Kabupaten Boyolali.

Menurut Dirjen KSDAE Kementerian Lingkungan Hidup Dan Kehutanan (KLHK), Satyawan Pudyatmoko api belum sepenuhnya bisa dipadamkan hingga hari kedua penanganan. Upaya pemadaman dengan cara manual melalui gepyokan dan pembuatan sekat api terkendala kondisi medan yang sulit diakses relawan gabungan.

Baca Juga

"Secara topografi berupa tebing curam dan jurang yang cukup dalam dan sulit dijangkau manusia atau kendaraan," katanya, usai mengikuti rapat koordinasi penanganan kebakaran Merbabu, di Posko BRC, Desa Batur, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, Sabtu (28/10/2023) petang.

Di sisi lain, kondisi semak belukar dan padang rumput atau sabana di lereng Gunung Merbabu cukup tebal serta mengering akibat cuaca yang cukup terik. Sehingga 'bahan bakar' yang tersedia besar sekali ditambah angin yang berhembus tidak menentu arah juga sangat mempengaruhi api cepat meluas dari titik awal diketahui.

 

"Ini tentu sangat menyulitkan upaya pemadaman tidak dapat dilakukan dengan cepat, demikian halnya dengan upaya pencegahan agar titik api tidak meluas," ujarnya.

Terkait dengan hambatan ini, Satyawan menjelaskan, KLHK telah berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk dilakukan pemadaman melalui udara. Water boombing akan dikerahkan untuk membantu memadamkan kebakaran di lereng Gunung Merbabu dari udara, karena upaya pemadaman lewat darat cukup terkendala.

Pun demikian upaya untuk melokalisir api agar tidak meluas ternyata juga membutuhkan bantuan pemadaman lewat udara dengan menggunakan water bombing. "Kita juga sudah mintakan  bantuan pemadaman dari udara ini kepada BNPB, avar kebakaran hutan di lereng Gunung Merbabu ini dapat secepatnya dikendalikan," ujarnya.

Satyawan juga mengapresiasi upaya pemda, BPBD, TNI/Polri, hingga relawan yang saling membantu untuk memadamkan api dan membantu warga terdampak.

"Termasuk juga dengan penyiapan dapur umum di semua resort di TN (Taman Nasional) Gunung Merbabu dan pengerahan para  relawan hingga ikut terlibat dalam pe anganan kebakaran lereng Merbabu ini," katanya.

Sementara itu Bupati Semarang, Ngesti Nugraha mengatakan proses evakuasi warga yang terdampak oleh asap tebal serta debu dari sisa tanaman yang terbakar dan terbawa angin telah dilakukan ke Balai Desa Batur.

Hingga Sabtu malam total masih ada 91 orang warga yang sudah dievakuasi dan ada juga yang mengungsi ke rumah kerabatnya di wilayah desa lain di Kecamatan Getasan. Evakuasi masyarakat terdampak diprioritaskan bagi warga yang sudah sepuh (manula), anak, balita dan ibu hamil. "Mereka kita evakuasi ke Balai Desa Batur," lanjut Ngesti.

Kemudian juga sudah siapkan selimut, handuk peralatan mandi, pernyiapan MCK dan juga kebutuhan makan setiap harinya. "Sudah ada dapur umum di sini dan itu sangat membantu," tegas Bupati.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement