Jumat 20 Oct 2023 17:55 WIB

Burhanuddin Muhtadi: Pemilih Berpotensi Hengkang ke Anies Jika Prabowo Pilih Gibran

56 persen pemilih Prabowo datang dari basis lama yang tidak puas kinerja Jokowi.

Rep: Muhammad Nursyamsyi/ Red: Agus raharjo
Direktur Eksekutif  Indikator Politik burhanudin muhtadi  memamparkan hasil survei pemilihan presiden yang di  lakukan oleh Indikator Politik, Jakarta, Rabu (26/9).
Foto: Republika/Iman Firmansyah
Direktur Eksekutif Indikator Politik burhanudin muhtadi memamparkan hasil survei pemilihan presiden yang di lakukan oleh Indikator Politik, Jakarta, Rabu (26/9).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia (IPI) Burhanuddin Muhtadi mengingatkan bakal calon presiden (capres) Koalisi Indonesia Maju (KIM) Prabowo Subianto untuk berhati-hati menarik Gibran Rakabuming Raka sebagai bakal cawapres. Burhanuddin memprediksi ada potensi larinya pendukung Prabowo kepada capres lain jika memilih cawapres Gibran.

"Jika Gibran jadi cawapres Prabowo, kemudian pendukung lama Prabowo melirik capres lain. Ini perlu diperhitungkan. Ini ada potensinya," ujar Burhanuddin, Jumat (20/10/2023).

Baca Juga

Potensi hengkangnya pendukung Prabowo itu, menurut Burhanuddin, terindikasi dari hasil survei IPI bertajuk 'Pergeseran Dukungan Partai dan Capres jelang Pendaftaran Capres dan Cawapres 2024'. Hasil survei ini diumumkan di Jakarta, Jumat (20/10/2023).

Menurutnya, dalam simulasi dua pasangan capres dan cawapres, kemungkinan larinya pendukung Prabowo adalah ke capres Anies Baswedan. "Kenapa? Karena ada kemiripan sikap politik antara basis pemilih Prabowo dengan basis Anies. Keduanya sama-sama cenderung kritis kepada pemerintah Jokowi, meskipun tidak mengatakan anti-Jokowi. Nah kalau sekarang anaknya Jokowi jadi cawapres Prabowo bagaimana sikap mereka? Itu yang harus disimulasikan," kata Burhanuddin.

 

Dia mengatakan, KIM perlu memikirkan secara matang terkait harapan mengambil Gibran itu. "Karena saya banyak bertemu dengan pendukung Anies yang berharap betul Gibran menjadi cawapres Prabowo. Mungkin mereka berharap mendapatkan bola muntah. Namun untuk menentukan bahwa itu empiris, ya, harus diuji. Kan masih analisa. Analisa gak perlu uji empirik," ujarnya.

Burhanuddin memahami latar belakang diambilnya opsi Gibran sebagai cawapres Prabowo. Alasan utamanya adalah menganggap Gibran sebagai penerus basis pemilih Jokowi. Sebab, sebagai putra Presiden Joko Widodo, Gibran akan mendapatkan dukungan dari basis Jokowi.

"Ini mengasumsikan Gibran sebagai aset elektoral atau senjata rahasia untuk menggerogoti basis Ganjar Pranowo, supaya banyak pemilih Jokowi yang lari ke Prabowo," katanya.

Namun Burhanuddin mengingatkan, strategi mengambil Gibran dan menarik suara Ganjar bisa menimbulkan potensi dampak lain yang harus dipikirkan kubu Prabowo. Sebab, 56 persen pemilih Prabowo itu datang dari basis lama.

Menurut Burhanuddin, mereka adalah yang masih setia pada Prabowo, namun cenderung tidak puas terhadap kinerja Jokowi. Bahkan, ada 38 persen yang sudah lari jauh-jauh hari ke Anies karena Prabowo bergabung dengan pemerintah Jokowi.

"Kalau Gibran jadi cawapres Prabowo, pertanyaannya, berapa suara yang ditarik dari Ganjar? Ini perlu dihitung berapa banyak," katanya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement