Kamis 05 Oct 2023 04:31 WIB

Menkes Ingin Percepat Pelatihan Pengobatan Kanker Pakai Teknologi Nuklir

Layanan pengobatan kanker harus bisa diterapkan di seluruh rumah sakit daerah.

Rep: Rahma Sulistya/ Red: Erik Purnama Putra
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin.
Foto: Prayogi/Republika
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan, akan mempercepat pelatihan pengobatan teknologi nuklir ke rumah sakit (RS) yang ada di tingkat daerah. Dengan menggandeng GE Healthcare, kata dia, pelatihan pengobatan nuklir akan berfokus pada deteksi metastasis.

"Seperti penyebab kanker serviks, penyebabnya ada tiga, pertama virus. Lalu environment, bisa polusi atau lingkungan. Dan God, tidak tahu tapi kemudian ada di tubuh. Itu semua bisa dideteksi dini dengan bioteknologi," ucap Budi dalam penandatanganan perjanjian dengan GE Healthcare di The Westin Jakarta, dikutip Rabu (4/10/2023).

Menurut Budi, nantinya tidak hanya kanker serviks, melainkan ada tiga kanker tertinggi lainnya yang akan difokuskan untuk ditangani. Ketiganya adalah kanker payudara, kanker paru-paru, dan kanker prostat. Keempat jenis kanker tersebut merupakan yang tertinggi di Indonesia.

Direktur Utama RS Kanker Dharmais, dr R Soeko Werdi Nindito menjelaskan, layanan pengobatan kanker harus bisa diterapkan di seluruh daerah. Hanya saja, hal itu harus dibarengi dengan alat-alat kesehatan diagnostik dan treatment kanker.

"Diagnostik paling tidak ada tiga, radiologi, laboratorium darah, terakhir patologi anatomi jarungan. Kalau treatment, pertama pembedahan, yang kedua kemoterapi, yang ketiga disinar, terakhir radioterapi," kata Soeko dalam kesempatan yang sama.

Alat-alat kesehatan yang berkaitan dengan diagnostik dan treatment itu akan tersedia di beberapa RS daerah, termasuk juga pengobatan nuklir. Dengan pengobatan nuklir, sambung dia, dokter bisa mendeteksi titik mana saja di tubuh yang sudah terdampak kanker.

Ketika sudah terdeteksi, menurut Soeko, dokter bisa menentukan langkah penyembuhan selanjutnya. Namun, alat tersebut merupakan alat yang canggih sehingga dibutuhkan pelatihan. Bersama GE Healthcare, nantinya para dokter di tingkat daerah akan diberikan pelatihan untuk mengoperasikan alat-alat tersebut.

"Apa saja sih standar-standar yang harus dipenuhi agar alat itu tidak membahayakan orang lain. Kemudian dokter-dokternya sudah terlatih atau belum, bagaimana sistem pengoperasionalannya," kata Soeko.

Dalam kolaborasi tersebut, GE HealthCare akan memberikan dukungan kepada RS Kanker Dharmais dalam hal pelatihan teknis, dan terus memperkuat perawatan, serta memberikan akses dan manajemen produksi distribusi isotop terhadap pengobatan nuklir yang penting bagi kebutuhan layanan kanker.

Selain akan menjalankan program jejaring rujukan, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) juga akan melakukan standardisasi alat di RS. Kemenkes juga akan menyediakan alat kesehatan lengkap untuk empat penyakit, yaitu jantung, kanker, stroke dan ginjal. 

President & CEO GE HealthCare Interkontinental, Elie Chaillot menambahkan, produksi awal GE Healthcare meliputi mesin ultrasound (USG) dan monitor pasien, yang pertama diproduksi di Indonesia dan ASEAN. "Melalui kolaborasi dengan RS Kanker Dharmais, kami memperkuat komitmen kami dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan di Indonesia dan di wilayah ASEAN," ujar Elie.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement