Senin 21 Aug 2023 21:02 WIB

Sejumlah Pemuda Antusias Ikuti Diskusi Publik Soal Politik Bersama Civitas Ganjar di Medan

Kegiatan diskusi berjalan lancar dan proaktif.

Generasi Z dan milenial di Kota Medan mengikuti Diskusi Publik dan Rembug Anak Muda dengan tema Suara Pemuda, Suara Masa Depan: Gen Z dan Milenial Menuju 2024 di Kafka Cafe.
Foto: Dok. Web
Generasi Z dan milenial di Kota Medan mengikuti Diskusi Publik dan Rembug Anak Muda dengan tema Suara Pemuda, Suara Masa Depan: Gen Z dan Milenial Menuju 2024 di Kafka Cafe.

REPUBLIKA.CO.ID, MEDAN -- Generasi Z dan milenial di Kota Medan mengikuti Diskusi Publik dan Rembug Anak Muda dengan tema "Suara Pemuda, Suara Masa Depan: Gen Z dan Milenial Menuju 2024" di Kafka Cafe. 

Kegiatan tersebut digagas oleh kelompok sukarelawan dari Generasi Alumni Muda Universitas Riau (Unri) dan Universitas Sumatra Utara (USU) bersama Ganjar Pranowo atau disebut Civitas Ganjar.

Baca Juga

"Kegiatan semacam bincang-bincang aspiratif, itu lebih ke arah diskusi. Biasanya relawan dan elemen-elemen politik ini punya rumah, punya posko. Kali ini, kita yang membawa posko ke tengah masyarakat," kata Koordinator Wilayah Civitas Ganjar, Berry Sitohang, seperti dinukil dari Kantor Berita Antara pada Senin (21/8/2023). 

Kegiatan diskusi berjalan lancar dan proaktif karena para peserta yang didominasi kaum muda banyak mengungkapkan kegelisahan, aspirasi dan pertanyaan-pertanyaan mengenai politik di Indonesia.

"Jadi, kami bisa menampung aspirasi sampai pertanyaan yang ingin ditanyakan masyarakat sekitar pemilihan presiden ke depan. Khususnya, untuk anak muda, gen Z, dan milenial," ujar Berry.

Selain itu, mereka juga dikenalkan dengan sosok pemimpin yang dibutuhkan bangsa dan negara, yakni Ganjar Pranowo melalui penayangan video berisi profil dan sepak terjangnya menjabat Gubernur Jawa Tengah selama dua periode.

Berry mengakui hal itu sesuai tujuan para sukarelawan Civitas Ganjar mengadakan kegiatan kali ini, yakni untuk mengedukasi generasi muda tentang politik sekaligus menyadarkan mereka untuk terlibat aktif di dalamnya.

"Tujuan yang pertama, yang paling pokok, kita ingin sekalian juga memberikan edukasi politik, penyadaran politik atau penyadaran hak-hak sipil politik bagi masyarakat khususnya anak muda. Karena, anak muda ini salah satu (kalangan) pemilih di angka yang dominan. Tetapi, masih banyak, dominan yang bersikap apatis terhadap politik," katanya.

Seperti kegiatan-kegiatan yang digelar sebelumnya, Berry mengakui diskusi kali ini juga mendapatkan respons positif dari para milenial dan gen Z karena dinilai sangat bermanfaat dan sesuai dengan kebutuhan mereka.

"Dari beberapa acara termasuk hari ini kami merasakan animo yang luar biasa dari kawan-kawan anak muda. Ternyata, banyak kawan-kawan anak muda ini yang memuji bahkan sampai berkata kenapa dari dulu tidak ada forum seperti ini. Tempat di mana mereka berekspresi sekaligus belajar politik," tutur Berry.

Sambutan tersebut menunjukkan kaum muda di Sumatra Utara dan Riau, termasuk Kota Medan, sangat mendukung Ganjar Pranowo untuk menjadi Presiden Republik Indonesia selanjutnya.

"Selama ini teman-teman Kota Medan yang kita jangkau, khususnya anak muda, itu antusias dan semua siap mendukung apalagi melihat sepak terjang dan personanya Pak Ganjar itu sendiri," ujar Berry.

Tanggap positif terhadap kegiatan yang diinisiasi para sukarelawan Civitas Ganjar itu salah satunya diungkapkan oleh Samuel Yoshua Sibarani seusai mengikuti kegiatan Diskusi Publik dan Rembug Anak Muda kali ini.

Bahkan, Samuel yang merupakan alumni fakultas hukum di USU meminta sukarelawan Civitas Ganjar untuk terus menggelar kegiatan serupa ke depannya untuk kalangan muda yang lain.

"Kegiatan ini sangat baik untuk terutama milenial atau anak muda karena saya rasa kegiatan ini bisa menambah pemikiran orang muda untuk dapat memilih dan juga ikut politik ke depannya," ujarnya.

Menurut pengamatannya selama ini, banyak kalangan milenial maupun gen Z di Kota Medan yang tidak mengetahui politik dan menyadari pentingnya memilih pemimpin yang baik untuk kemajuan bangsa dan negara ke depannya.

Kurangnya pengetahuan di kalangan pemuda itu diduga menimbulkan fenomena golongan putih (Golput) atau sikap tidak memilih salah satu kandidat dalam Pemilihan Umum.

"Banyak anak muda itu melakukan golput sekarang. Itu karena, tidak mengerti tentang apa politik ini. Siapa Presiden selanjutnya yang layak untuk kita pilih dan di sini kita dapat belajar itu tadi," kata Samuel.

 

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement