Kamis 09 Mar 2023 00:48 WIB

Bocah 9 Tahun di Lampung Barat Meninggal Setelah Idap Difteri

Jenazah dimandikan orang tua dan petugas medis menggunakan alat pelindung diri.

Rep: Mursalin Yasland/ Red: Agus raharjo
Petugas kesehatan menyuntikkan vaksin imunisasi kepada siswa saat kegiatan bulan imunisasi anak sekolah (BIAS) di SDS Santa Maria, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Selasa (8/10/2022). Program BIAS Difteri Tetanus (DT) dan Tetanus Difteri (TD) yang digelar rutin sebanyak dua kali dalam setahun ke sejumlah sekolah di kota tersebut guna menjamin pelajar mendapatkan perlindungan terhadap penyakit difteri dan tetanus.
Foto: ANTARA FOTO/Makna Zaezar
Petugas kesehatan menyuntikkan vaksin imunisasi kepada siswa saat kegiatan bulan imunisasi anak sekolah (BIAS) di SDS Santa Maria, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Selasa (8/10/2022). Program BIAS Difteri Tetanus (DT) dan Tetanus Difteri (TD) yang digelar rutin sebanyak dua kali dalam setahun ke sejumlah sekolah di kota tersebut guna menjamin pelajar mendapatkan perlindungan terhadap penyakit difteri dan tetanus.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDAR LAMPUNG – Herman Susilo, bocah usia sembilan tahun meninggal dunia setelah mengalami suspek difteri, Rabu (8/3/2023). Bocah ini sempat menjalani perawatan di puskesmas dan dirujuk ke RSUD Alimudin Umar, Liwa, Kabupaten Lampung Barat, Lampung.

Keterangan yang diperoleh Republika.co.id dari Peratin Hujung Ismet Liza, bocah tersebut awalnya mengalami sakit di perut pada Senin (6/3/2023). Orang tuanya membawa ke puskesmas terdekat dengan rumahnya Desa Hujung, Kecamatan Belalau, Lampung Barat. “Petugas puskesmas bilang anaknya sakit (suspek) difteri,” kata Ismet, Rabu (8/3/2023).

Baca Juga

Tak lama dari itu, ia mengatakan anaknya mendapat rujukan dari puskemas untuk berobat ke RSUD Alimudin Umar, Liwa. Setelah dirawat di RSUD tersebut, petugas rumah sakit merujuk lagi ke RSUD Abdul Moeloek Lampung.

Kondisi bocah tersebut melemah saat dibawa mobil dalam perjalanan menuju RSUD Abdul Moeloek. Tiba di Simpang Luas, Kecamatan Batu Ketulis, kondisi pasien melemah. Atas inisiatif orang tuanya dan juga petugas medis membawa bocah tadi ke Puskesmas Belalau.

Setelah tiba di puskesmas, bocah tersebut meninggal dunia pada Rabu sekira pukul 02.00 WIB. Pada pukul 04.00 WIB, jenazah bocah Herman tersebut langsung dibawa ke rumah duka di Liwa, Lampung Barat.

Saat berada di rumah, bocah tersebut dimandikan secara tertutup dan steril mengingat penyakit difteri bersifat menular. Saat memandikan jenazah dilakukan orang tua dan petugas medis menggunakan alat pelindung diri.

Menurut pihak RSUD Alimudin Umar, bocah tersebut memang sempat dirawat di rumah sakit setelah dari puskesmas. Mengenai sebab-sebab pasien meninggal dunia belum ada keterangan resmi dari pimpinan RSUD Alimudin Umar.

Mengutip keterangan Dinas Kabupaten Mojokerto dalam situsnya mojokertokab.go.id, difteri adalah jenis penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri yang diawali dengan rasa sakit di tenggorokan, demam, lemas hingga membengkaknya kelenjar getah bening selaput lendir. Bakteri yang menginfeksi bernama Corynebacterium diphtheria.

Cara penularan difteri terhirup percikan ludah penderita di udara saat penderita bersin atau batuk. Ini merupakan cara penularan difteri yang paling umum. Barang-barang yang sudah terkontaminasi oleh bakteri, contohnya mainan atau handuk. Sentuhan langsung pada luka borok (ulkus) akibat difteri di kulit penderita.

Penularan ini umumnya terjadi pada penderita yang tinggal di lingkungan yang padat penduduk dan kebersihannya tidak terjaga. Difteri umumnya memiliki masa inkubasi atau rentang waktu sejak bakteri masuk ke tubuh sampai gejala muncul dua hingga lima hari.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement