Selasa 07 Mar 2023 12:04 WIB

Sampah Hingga Sungai Tercemar Masih Jadi Masalah Utama Kota Bandung

Sampah hingga sungai yang tercemar masih menjadi masalah utama di Kota Bandung.

Rep: Dea Alvi Soraya/ Red: Bilal Ramadhan
Wali Kota Bandung Yana Mulyana (kedua kanan) meninjau mesin pemilah dan pencacah sampah usai launching Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Cicukang, Kota Bandung. Sampah hingga sungai yang tercemar masih menjadi masalah utama di Kota Bandung.
Foto: Edi Yusuf/Republika
Wali Kota Bandung Yana Mulyana (kedua kanan) meninjau mesin pemilah dan pencacah sampah usai launching Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Cicukang, Kota Bandung. Sampah hingga sungai yang tercemar masih menjadi masalah utama di Kota Bandung.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG — Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Bandung Dudy Prayudi mengungkapkan, sampai saat ini Kota Bandung masih memiliki sejumlah pekerjaan rumah yang belum terselesaikan, mulai dari sampah hingga sungai yang tercepar. Menurutnya, dari 24 sungai di Kota Bandung, empat diantaranya masih masuk kategori tercemar ringan hingga sedang. 

“Ada beberapa lainnya memang masih masuk tercemar ringan. Maka dari itu, kita membuat kajian mengenai penyebab terjadinya pencemaran sedang pada empat sungai tersebut,” kata Dudy. 

Baca Juga

DLKH, kata dia, akan melakukan tinjauan langsung ke lapangan dan mengkaji penyebab pencemaran. Menurutnya, terdapat beberapa faktor utama yang menjadi dalang pencemaran sungai, salah satunya limbah domestik. Sampah, sambungnya, juga masih menjadi biang kerok tercemarnya kualitas air sungai dan lingkungan di Kota Bandung. 

Dudy mengatakan, selama sarana prasarana jalan di TPA Sarimukti belum diperbaiki, maka persoalan sampah akan sulit terselesaikan. Meski begitu, dia mengingatkan bahwa capaian pengolahan sampah yang semakin menunjukkan progres melalui program Kang Pisman, ditambah dengan capaian 100 persen ODF, yang membuat kualitas air sungai Kota Bandung menjadi lebih baik dari sebelumnya. 

 

“Kita ubah tempat penampungan sampah jadi tempat pengolahan sampah. Jadi sampah diolah bukan ditampung. Kalau ini kita laksanakan di seluruh TPS, bisa mengurangi sampah yang dikirim ke TPA," paparnya.

Selain mengandalkan komposting, magotisasi, Pemkot Bandung juga telah menjalankan pengolahan sampah dengan sistem biogester dan refuse-derives fuel (RDF). Melalui sistem ini, sampah dapat diubah menjadi sumber listrik dan bahan substitusi untuk briket batu bara. 

“Memang kalau bicara kuantitas masih kecil. Kalau kita konsistenkan ini bisa jadi salah satu solusinya," imbuhnya. 

Selain berupaya mengurangi volume sampah harian, Dudy juga menegaskan bahwa saat ini Pemerintah Kota Bandung telah menambah jumlah armada pengangkut sampah demi memaksimalkan kebutuhan ritase harian. Pola pengangkutan, sambung dia, juga telah diubah demi mengurangi potensi terjadi penumpukan sampah. 

“Pola pengangkutannya juga sifatnya adalah keroyokan, karena kita ada 6 SWK (sub wilayah kota), jadi ketika ada satu TPS yang bermasalah itu akan langsung dibantu oleh lima yang lain. Alhamdulillah dengan sistem seperti ini ritese sampah kita sudah berangsur-angsur lagi menjadi normal,” ungkap Dudy. 

Dia juga menerangkan, dalam beberapa waktu belakangan, jumlah ritase truk pengangkut sampah Kota Bandung telah berangsung normal, menyentuh angka 246 ritase per hari. Jumlah ini, kata Dudy, sudah termasuk normal. Namun Kota Bandung masih perlu memboyong tumpukan sampah yang masih menggunung, imbas minimnya ritase pada Januari lalu.

“Di Januari itu harusnya ritase normalnya di 240-an tapi yang disalurkan hanya setengahnya, nah itu yang kita kejar, bereskan  ‘PR-PR’ yang kemarin,” ungkap Dudy. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement