Senin 07 Nov 2022 18:59 WIB

Cerita Sopir Ambulans Brigadir J, Diminta Angkut Orang Sakit, Ternyata Sudah Meninggal

Sopir ambulans ungkap bagaimana kondisi Brigadir J di kediaman Sambo.

Rep: Bambang Noroyono/ Red: Teguh Firmansyah
Terdakwa kasus pembunuhan Brigadir Nopriansyah Yosua Hutabarat (Brigadir J), Ferdy Sambo memasuki ruangan untuk menjalani sidang lanjutan dengan agenda mendengarkan keterangan saksi dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (1/11/2022). Dalam sidang tersebut JPU menghadirkan 12 orang saksi diantaranya orang tua Brigadir J, Samuel Hutabarat dan Rosti Simanjuntak.
Foto: ANTARA/Muhammad Adimaja
Terdakwa kasus pembunuhan Brigadir Nopriansyah Yosua Hutabarat (Brigadir J), Ferdy Sambo memasuki ruangan untuk menjalani sidang lanjutan dengan agenda mendengarkan keterangan saksi dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (1/11/2022). Dalam sidang tersebut JPU menghadirkan 12 orang saksi diantaranya orang tua Brigadir J, Samuel Hutabarat dan Rosti Simanjuntak.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Satu jasad tertelungkup di lantai dekat tangga. Di lantai sudah tampak genangan darah. Di bagian dada pada jasad tampak adanya lubang.

Denyut Brigadir J sudah tidak ada. Jenazah itu lalu dimasukkan ke dalam kantung mayat. Begitu kesaksian Ahmad Syahrul Ramadhan, petugas sopir ambulans yang diminta mengangkut jenazah di Duren Tiga 46, pada Jumat (8/7) petang.

Baca Juga

“Saya disuruh cek nadinya. Saya cek di leher, dan tangan, memang sudah tidak ada nadinya,” kata Ahmad saat bersaksi di sidang lanjutan pembunuhan berencana Brigadir Nofriansyah Joshua Hutabarat (J) di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel), Senin (7/11).

Ahmad dihadirkan sebagai saksi fakta atas peristiwa pembunuhan di Duren Tiga 46, Jumat (8/7) untuk tiga terdakwa, yakni terdakwa Bharada Richard Eliezer (RE), Bripka Ricky Rizal (RR), dan Kuat Maruf (KM).

Waktu itu, tutur Ahmad, sekitar pukul 19:08 WIB ia mendapatkan panggilan tugas. Ia bertugas untuk PT Bintang Medika sebagai sopir darurat ambulans. Namun, kata Ahmad, tugas dia, sebetulnya bukan untuk angkut jenazah, melainkan buat mengangkut orang yang lagi sakit, ataupun sekarat.

“Saya dikirim share location penjemputan dari call center,” ujar Ahmad.  Dari Pancoran-7, ia menuju ke lokasi yang berada di Duren Tiga 46.

Titik pasti lokasi penjemputan ia tak mengetahui. Namun, saat tiba di dekat RS Siloam Duren Tiga, ada orang yang mengetok pintu mobil ambulan. “Mas-mas, sini mas. saya yang pesan ambulan,” begitu kata Ahmad menceritakan.

Ahmad mengaku tak kenal. Pun tak hafal muka penggedor-gedor jendela kaca ambulannya itu. “Tapi saya langsung ikuti. Dia naik motor, saya ikuti dari belakang,” kata Ahmad.

Sebentar tiba di gapura masuk Kompleks Polri, sudah ada anggota provos dengan pakain dinas menanyainya. “Saya disetop. ‘Mau ke mana?’. Saya jelaskan, Pak saya dapat arahan dari kantor saya untuk menjemput di titik lokasi, saya tunjukkan map (peta) lokasi penjemputan yang sudah saya terima dari kantor,” begitu kata Ahmad.

Si provos, kata dia, lalu memberikan arahan ke tempat tujuan. Memerintahkan Ahmad mematikan sirene, dan rotator ambulan saat berada di dalam komplek. “Tiba di lokasi penjemputan, memang saya lihat sudah banyak orang-orang dan anggota kepolisian,” kata Ahmad.

Ia pun diminta memarkir ambulans dengan posisi masuk ke dalam garasi rumah penjemputan.

Setelah itu, Ahmad membuka pintu ambulans. Niat dia menurunkan tempat tidur. Tetapi yang dia bawa tak muat masuk ke dalam rumah. Karena di garasi ada dua mobil jenis Fortuner dan Kijang Innova. Ahmad meminta izin kepada anggota provos di lokasi. “Pak saya turunkan tandunya saja,” ujar Ahmad.

Si petugas itu, kata Ahmad, mengiyakan. Lalu dengan arahan para petugas yang ada di rumah tersebut, Ahmad masuk ke dalam rumah.

“Saya kaget karena di dalam rumah itu, sudah ramai, dan banyak kamera,” ujar Ahmad.

Tiba di dalam Ahmad diminta menunggu. Dia menunggu dekat kolam ikan. Tak lama seorang petugas di rumah tersebut memintanya masuk ke dalam. “Mas minta tolong evakuasi,” cerita Ahmad menirukan ucapan petugas itu. “Lalu saya bilang, yang sakit yang mana Pak?,” kata Ahmad.

Tak ada jawaban atas pertanyaan itu, Ahmad hanya diminta mengikuti petugas yang mengantarkannya masuk ke dalam rumah.

Setelah masuk ke dalam rumah, di satu ruangan di lantai-1 dekat tangga, kata Ahmad, dia melihat satu jenazah.

Sudah tertelungkup berdarah-darah. Dan masih mengenakan masker hitam. Lantainya pun tergenang darah. Seseorang, kata dia, memintanya mengecek kondisi jasad telungkup itu. Dengan sarung tangan karet, Ahmad mendeteksi denyut nadi di leher, dan pergelangan tangan. “Memang jasadnya sudah tidak ada nadinya, yang mulia,” begitu kata Ahmad.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement