Ahad 22 Aug 2021 14:37 WIB

Pemerintah Diminta Konsisten Terapkan Indikator PPKM

Penentuan PPKM esok diminta tetap mengacu pada indikator yang diterapkan.

Rep: Fauziah Mursid/ Red: Agus raharjo
Peserta aksi dari Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) menggelar aksi penolakan perpanjangan PPKM Level 4 di Titik Nol Yogyakarta, Rabu (18/8). Mereka menolak perpanjangan PPKM Level 4 tanpa ada kejelasan batas waktu. Menurut mereka hal ini sangat memberatkan pelaku ekonomi. Selain itu juga rawan pemutusan hubungan kerja bagi buruh di Yogyakarta.
Foto: Wihdan Hidayat / Republika
Peserta aksi dari Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) menggelar aksi penolakan perpanjangan PPKM Level 4 di Titik Nol Yogyakarta, Rabu (18/8). Mereka menolak perpanjangan PPKM Level 4 tanpa ada kejelasan batas waktu. Menurut mereka hal ini sangat memberatkan pelaku ekonomi. Selain itu juga rawan pemutusan hubungan kerja bagi buruh di Yogyakarta.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Pemerintah diminta konsisten dalam menerapkan indikator penetapan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) level di tiap wilayah. Epidemiolog dari Centre for Environmental and Population Health Griffith University, Australia, Dicky Budiman menilai, konsistensi penting agar PPKM berperan maksimal dalam menurunkan kasus Covid-19.

"PR (pekerjaan rumah) kita selama ini adalah masalah konsistensi. Konsistensi di indikator itu jangan diubah-ubah, jangan dilonggar-longgar, leveling-nya masih sama di level empat tapi pelonggarannya berbeda, ini yang tidak boleh," ujar Dicky saat dihubungi Ahad (22/8).

Ia mengatakan, jika acuan penetapan level PPKM tidak konsisten, akan menimbulkan ketidakjelasan dalam penerapan PPKM. Selain itu, ia menilai sebaiknya kelonggaran juga dilakukan secara bertahap. Dicky berharap dalam penentuan kelanjutan PPKM level yang akan berakhir pada Senin 23 Agustus mendatang, juga mengacu indikator tersebut.

Menurutnya, jangan sampai penetapan PPKM masih level empat, tetapi pelonggaran seperti level di bawahnya. "Betul (jangan seperti itu). Nanti kalau nggak ada patokan jelas, itu berbahaya, kita harus bertahap dalam pelonggaran itu," ujar Dicky.

Namun demikian, Dicky menilai saat ini kasus infeksi Covid-19 saat ini masih di angka 100 ribuan dan jumlah kematian lebih dari seribu orang. Jika mengacu data ini, ia memprediksi angka kematian juga memungkinkan masih seribu orang lebih hingga pertengahan September.

Karena itu, meskipun penerapan PPKM sejak 3 Juli lalu telah mampu menurunkan angka penularan kasus Covid-19, tetapi jumlah penularan masih cukup banyak. "Jadi artinya masih terlalu banyak yang belum ditemukan atau dideteksi ya, walaupun sudah menurun memang, tapi ya masih di 100 ribuan. Artinya, pesan pentingnya adalah perlu kita perbaiki ya respons ini," kata Dicky.

Ia menekankan, dalam menemukan kasus-kasus infeksi Covid-19 maka testing, tracing dan treatmen ini harus terus dilakukan. Langkah ini, lanjut Dicky, kemudian diikuti dengan penerapan 5M dan vaksinasi.

"Ini PR besar yang saat ini, memang untuk Jawa Bali mungkin bisa menurun levelingnya ke level tiga, tetapi PR kita selama ini adalah masalah konsistensi," ujarnya. Kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4 Jawa-Bali periode 17-23 Agustus akan berakhir Senin (23/8).

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement