Kamis 06 Dec 2018 16:35 WIB

Teror di Nduga, Jangan Sampai Polisi Salah Tangkap

Kelompok separatis mungkin mengharapkan kasus ini jadi perbincangan internasional.

Rep: Febrianto Adi Saputro/ Red: Ratna Puspita
Evakuasi jenazah korban penembakan KKB di Nduga, Papua.
Foto: dok. Polda Papua
Evakuasi jenazah korban penembakan KKB di Nduga, Papua.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Anggota DPD RI asal Papua Charles Simaremare menyesalkan peristiwa penembakan yang terjadi di Kabupaten Nduga, Papua. Ia berharap aparat keamanan tidak salah tangkap dalam menindak pelaku penembakan yang menyasar pekerja proyek pembangunan jembatan tersebut.

"Kami berharap TNI-Polri menangkap para pelaku dan memprosesnya sesuai hukum yang berlaku, tetapi juga jangan sampai salah tangkap apalagi salah tembak. Jangan sampai karena terbawa emosi akhirnya serba salah, orang yang tidak berdosa jadi korban lagi," kata Charles di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (6/12).

Menurutnya bagi aparat yang baru bertugas ke Papua tentu akan sulit membedakan mana kelompok pemberontak mana yang bukan. Karena itu, ia mengingatkan aparat keamanan agar perlu berhati-hati dalam bertindak.

Selain itu ia juga mengimbau kepada para pelaku untuk menyerahkan diri agar tidak ada lagi korban jatuh sia-sia. Ia pun mengingatkan ketika pelaku menyerahkan diri aparat tidak memperlakukannya dengan semena-mena.

"Tetap hargai kalau ada yang menyerahkan diri, apalagi keluarga yang membawa, karena tidak jarang yang seperti itu," ungkapnya.

Ia menambahkan baik TNI, Polri, maupun pemerintah pusat untuk berhati-hati agar kasus tersebut tidak ramai dibicarakan oleh dunia internasional. Ia khawatir kasus tersebut justru diharapkan oleh kelompok separatis tersebut. 

"Karena mereka sebenarnya ingin menarik perhatian dunia," ungkapnya.

Ia berharap untuk menangani kasus tersebut aparat tidak sampai melakukan tindakan pembumihangusan dan penembakan. Oleh karena itu perlu pemerintah perlu kehati-hatian dalam menangani kasus tersebut. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement