Jumat 08 Mar 2019 18:13 WIB

Alasan Pasukan TNI Masuk ke Nduga Secara Bertahap

Pasukan TNI harus selalu waspada.

Rep: Ronggo Astungkoro/ Red: Muhammad Hafil
Jenazah TNI Korban KKB Nduga. Anggota TNI mengangkat peti jenazah Serda Mirwariyadin yang tiba di Baseops Lanud I Gusti Ngurah Rai, Bali, Jumat (8/3/2019).
Foto: Antara/Fikri Yusuf
Jenazah TNI Korban KKB Nduga. Anggota TNI mengangkat peti jenazah Serda Mirwariyadin yang tiba di Baseops Lanud I Gusti Ngurah Rai, Bali, Jumat (8/3/2019).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kapendam XVII/Cendrawasih, Kolonel Inf Muhammad Aidi, mengatakan, para prjurit TNI yang melaksanakan pengamanan pergeseran pasukan menuju Nduga, Papua, akan terus meningkatkan kewaspadaan. Prajurit TNI yang hendak mengamankan dan membangun jalan di Nduga tak bisa berangkat sekaligus karena terkendala medan.

"Antisipasinya jelas prajurit tetap waspada. Kegiatan mereka sedang melakukan pengamanan rute dalan rangka pergeseran pasukan yang akan masuk ke Nduga," jelas Aidi saat dihubungi, Jumat (8/3).

Baca Juga

Ia menerangkan, TNI mengirimkan pasukan ke Nduga untuk mengamankan sekaligus mengerjakan pembangunan jembatan yang sempat terhenti karena ulah kelompok kriminal separatis bersenjata (KKSB) beberapa waktu lalu. Tapi, untuk masuk ke wilayah tersebut, tidak bisa dilakukan secara sekaligus.

"Ini kan ada prajurit yang akan masuk. Tapi kan masuknya tidak sekaligus karena keterbatasan sarana transportasi dan jalan, jadi bertahap," jelas dia.

Sebelumnya, sebanyak 600 prajurit TNI dikerahkan untuk mengamankan dan melanjutkan proses pembangunan di Nduga. Pasukan TNI akan digelar di sepanjang jalur pembangunan Trans-Papua Wamena-Mumugu, khususnya dalam pembangunan jembatan.

"TNI mengerahkan 600 personel memperkuat Kodam XVII/Cenderawasih untuk melanjutkan proyek jembatan di Nduga, Papua, yang sempat terhenti karena aksi penembakan dari kelompok kriminal separatis bersenjata (KKSB)," ungkap Pangdam XVII/Cenderawasih, Mayjen TNI Yosua Pandit Sembiring, dalam keterangan tertulisnya, Selasa (5/3).

Yosua menjelaskan, pasukan TNI tersebut akan digelar di sepanjang jalur pembangunan Trans Papua Wamena-Mumugu, khususnya dalam pembangunan jembatan. Teknis pelaksanaannya, pembangunan akan dilanjutkan oleh satuan zeni konstruksi (zikon) TNI AD, sedangkan tenaga ahli tetap dari PT Istaka Karya dan PT Brantas.

Pasukan TNI di Papua kemudian mendapatkan serangan dari kelompok kriminal separatis bersenjata KKSB. Mereka menyerang saat pasukan TNI melaksanakan pengamanan pergeseran pasukan yang akan melaksanakan pengamanan dan pembangunan di Nduga, Papua.

"Mendapatkan serangan dari pihak KKSB pimpinan Egianus Kogoya di Distrik Mugi, Kabupaten Nduga pagi tadi," ujar Aidi.

Penyerangan tersebut terjadi Kamis (7/3) sekitar pukum 08.00 WIT. Pasukan TNI Satuan Tugas Penegakkan Hukum (Satgas Gakkum) berkekuatan 25 orang tersebut baru tiba di Distrik Mugi dalam rangka mengamankan jalur pergeseran pasukan.

Kemudian secara mendadak mereka mendapatkan serangan oleh sekitar 50 hingga 70 orang KKSB bersenjata campuran, baik senjata standar militer maupun senjata tradisional seperti panah dan tombak.

"Pasukan berusaha melakukan perlawanan sehingga berhasil menguasai keadaan, dan berhasil memukul mundur kelompok KKSB sampai menghilang kedalam hutan belantara," jelas Aidi.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement