Senin 06 Aug 2018 18:55 WIB

Gerindra: Perbedaan Politik Jangan Menyebabkan Kita Berantem

Sekjen Gerindra berharap memang maksud Jokowi bukan mengajak melakukan kekerasan.

Rep: Febrianto Adi Saputro/ Red: Bayu Hermawan
Wakil Ketua MPR Ahmad Muzani
Foto: Republika/Prayogi
Wakil Ketua MPR Ahmad Muzani

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Gerindra Ahmad Muzani berharap, Joko Widodo (Jokowi) bisa menjelaskan maksud pidato di hadapan pendukungnya pada Sabtu (4/8) lalu. Muzani mengimbau jangan ada perpecahan hanya karena perbedaan politik saja.

Muzani menyayangkan pidato Jokowi. Ia berharap memang maksud Jokowi bukan mengajak pendukungnya melakukan kekerasan. "Ya mungkin mudah-mudahan itu (berantem gagasan dan program). Tapi kalau itu, harus dijelaskan dong, jangan belakangan penjelasannya, kan jadi problem kekhawatiran banyak pihak," kata Muzani di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (6/8).

Muzani menilai pernyataan semacam itu tidak tepat dilontarkan oleh seorang kepala negara. Menurutnya, seorang kepala negara harus mempersatukan dan mempertahankan persaudaraan. Terlebih lagi menjelang tahun politik seperti saat ini.

"Kami mengimbau kepada seluruh bangsa Indonesia untuk tenang. Bahwa kita ada perbedaan pilihan presiden, wakil presiden, iya, kita ada perbedaan parpol, jelas. Kita ada perbedaan agama tentu saja, tetapi jangan lah perbedaan itu menyebabkan kita berantem," katanya.

Wakil ketua MPR tersebut kembali mengingatkan bahwa tugas kepala negara adalah mempersatukan seluruh bangsa, dan seluruh wilayah dan seluruh masyarakat, bukan justru membuat suasanan menjadi tidak kondusif.

Sebelumnya, Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Johan Budi SP telah menjelaskan maksud pidato Jokowi tersebut. Johan menjelaskan bahwa bahwa berantem yang dimaksud adalah bukan berantem secara fisik, melainkan melawan pihak yang memfitnah dan melakukan ujaran kebencian.

"Saya kira disampaikan oleh Pak Presiden Jokowi kiasa, berantem jangan diartikan secara fisik, bukan begitu," kata Johan.

Johan melanjutkan, pidato Jokowi tersebut menitikberatkan untuk tidak memfitnah dan melakukan ujaran kebencian. "Saya kira tidak (provokatif), jangan diartikan fisik, sebelum bicara itu Pak Presiden berpesan untuk menjaga persatuna dan kesatuan," lanjutnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement