REPUBLIKA.CO.ID, RAMALLAH – Israel menggencarkan serangan dan penangkapan di seantero wilayah Tepi Barat. Aksi itu ternyata dilakukan menjelang rapat kabinet soal pencaplokan lebih banyak wilayah Palestina sebelum pengakuan berbagai negara September nanti.
Serangan Israel ke Tepi Barat ditingkatkan di Ramallah, awal pekan ini. Di Ramallah, pasukan Israel merampok toko penukaran uang dan mencuri ratusan ribu dolar AS. Mereka juga melakukan penangkapan dan menindak secara brutal warga yang melawan dengan melempar batu.
Belakangan, Nablus jadi sasaran serangan Israel. Puluhan warga yang melawan terluka sementara puluhan penangkapan dilakukan. Israel juga menghancurkan banyak bangunan di wilayah tersebut.
Pada Kamis, pasukan pendudukan Israel menggerebek enam sekolah di kota Hebron pada dan menahan beberapa guru. Koresponden WAFA mengatakan pasukan Israel menggerebek dan menggeledah enam sekolah di lingkungan Sheikh dan wilayah selatan Hebron, menyita foto dan buku pelajaran pendidikan, serta menahan guru selama penggerebekan.
Otoritas penjajahan Israel juga mengeluarkan dua perintah militer untuk menyita tanah milik warga Palestina dari desa Jinsafut, sebelah timur Qalqilya. Menurut Departemen Arsip Pemukiman di Kegubernuran Qalqilya, kedua perintah militer tersebut bertujuan untuk menyita sekitar 16 dunam tanah Palestina untuk pembangunan ruas jalan pemukiman baru.

Satu perintah bertujuan untuk menghubungkan koloni ilegal Yakir ke koloni Karnei Shomron, sementara perintah lainnya berupaya menghubungkan koloni Immanuel ke pos terdepan Karnei Shomron.
Sementara pasukan militer serta pemukim ilegal beraksi, kabinet diperkirakan akan membahas pencaplokan wilayah tertentu di Tepi Barat pada pekan depan. Rencana ini di tengah meningkatnya seruan untuk melakukan aneksasi di kalangan anggota parlemen sayap kanan Israel.
Menurut berita Channel 12, diskusi tersebut akan diadakan sehubungan dengan rencana pembangunan pemukiman yang baru-baru ini disetujui dan dipelopori oleh Menteri Keuangan Bezalel Smotrich, yang akan mencakup sekitar 3.400 unit rumah yang dibangun di kawasan E1 Tepi Barat yang kontroversial antara Yerusalem dan pemukiman Ma’ale Adumim.
Tidak ada saran bahwa pemungutan suara akan diadakan mengenai masalah aneksasi dalam pertemuan yang dijadwalkan pada Ahad. Kantor Perdana Menteri tidak menanggapi permintaan komentar mengenai diskusi yang dilaporkan dijadwalkan atau isu-isu dalam agenda kabinet.