Jumat 11 Apr 2025 21:18 WIB

Perceraian di Jakarta Barat Banyak Dipicu Kasus Perselingkuhan

Bila dilihat data Januari-Maret 2025, angka perceraian mencapai 800-900 perkara.

Rep: Antara/ Red: Erik Purnama Putra
Ilustrasi sidang perceraian.
Foto: Foto : MgRol112
Ilustrasi sidang perceraian.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengadilan Agama Jakarta Barat (PA Jakbar) menyatakan, perselingkuhan dan kondisi keuangan menjadi penyebab utama terjadinya perceraian di wilayahnya. Ketua PA Jakbar Muhammad Razali membeberkan, mulai Januari-Maret 2025, jajarannya telah menangani hingga 900 perkara perceraian.

"Bila dilihat data Januari-Maret 2025, angka perceraian mencapai 800-900 perkara. Mayoritas disebabkan karena faktor ekonomi dan perselingkuhan," ucap Razali usai melakukan audiensi dengan Wali Kota Jakbar Uus Kuswanto di kantor Wali Kota Jakbar, Jumat (11/4/2025).

Angka perceraian di Jakbar, lanjut dia, menduduki peringkat tertinggi ketiga di Jakarta setelah Pengadilan Agama Jakarta Timur dan Jakarta Selatan. "Faktor ekonomi itu bisa karena PHK, pinjaman online dan sebagainya. Karena ekonomi, itu kaitannya dengan kekurangan ekonomi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dalam rumah tangga," ujar Razali.

Adapun terkait perselingkuhan, kata Razali, kehadiran pihak ketiga dalam hubungan suami istri juga kerap kali menjadi faktor penyebab perceraian. "Perselingkuhan juga termasuk dalam kasus perceraian, kalo tidak dari pihak istri yang berselingkuh atau dari pihak suami yang berselingkuh," tukasnya.

Razali menyebut, PA Jakbar berperan untuk memberikan konsultasi sekaligus mengadakan kegiatan penyuluhan kepada masyarakat terkait kasus perceraian. "Kami juga memiliki 28 mediator non hakim yang bertugas membantu menyelesaikan sengketa perceraian melalui mediasi. Mediator ini berperan sebagai perantara dan bersifat netral," ujar Razali.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement