Ahad 25 Feb 2024 04:59 WIB

Kemenkominfo Labeli 'Hoaks' Isu Kandungan Bromat di Air Mineral

Konten kampanye hitam yang menyerang Le Minerale dinyatakan hoaks oleh Kemenkominfo.

Rep: Rahma Sulistya/ Red: Erik Purnama Putra
Kemenkominfo melabeli hoaks konten kandungan bromat di air mineral.
Foto: Republika.co.id
Kemenkominfo melabeli hoaks konten kandungan bromat di air mineral.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo) menerakan cap 'Hoaks; bagi sejumlah unggahan di TikTok yang berisi isu kadar bromat pada minuman air mineral. Hal itu menyasar Le Minerale yang dituding kandungan bromat berada di atas ambang batas aman yang dapat menyebabkan tumor dan kanker.

"Klaim yang beredar tersebut adalah tidak benar," kata Kemenkominfo dalam penjelasan di Aduan Konten (https://cekhoaks.aduankonten.id) laman resminya menyikapi hoaks yang beredar di masyarakat dikutip di Jakarta, Sabtu (24/2/2024).

Marketing Director PT Tirta Fresindo Jaya, Febri Satria Hutama menjelaskan, pihaknya selaku produsen Le Minerale menyampaikan, isu tersebut memang isapan jempol belaka. "Semua produk kami terjamin aman, diproduksi mengikuti standar tertinggi industri air kemasan serta memenuhi seluruh persyaratan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM)," kata Febri dalam siaran pers.

Dia berharap, adanya klarifikasi dari Kemenkominfo membuat masyarakat bisa mendapatkan informasi yang benar dan tidak mudah termakan hoaks. Menurut Febri, sebagai bentuk kepatuhan dan akuntabilitas, perusahaan secara berkala melaporkan hasil pemeriksaan laboratorium terkait keamanan dan mutu produk perusahaan ke BPOM.

Dia menjelaskan, perusahaannya enam bulan sekali rutin melakukan uji kadar bromat di laboratorium terakreditasi Badan Besar Industri Agro Kementerian Perindustrian. Hasilnya, kadar bromat dalam produk Le Minerale angkanya 0,4 parts per billion (ppb) atau 0,0004 miligram per liter. Angka itu konsisten jauh di bawah ambang batas aman 10 parts per billion (ppb) atau 0,01 miligram per liter yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

"Informasi hoaks tersebut jelas merugikan kami karena ikut diberitakan secara massif oleh berbagai berita media online, dan membohongi konsumen," kata Febri menyebut perusahaannya yang kerap menjadi sasaran kampanye hitam seorang influencer di tengah popularitas brand yang terus meroket.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement