Selasa 05 Dec 2023 06:45 WIB

TNI AU Masih Investigasi Insiden Jatuhnya Pesawat Super Tucano, Kini Periksa Black Box

KASAU menyatakan belum ada informasi terbaru terkait insiden jatuhnya Super Tucano

Rep: Alkhaledi Kurniaalam/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
Warga berada di dekat bangkai pesawat tempur taktis EMB-314 Super Tucano TNI AU yang mengalami kecelakaan di Pasuruan, Jawa Timur, Jumat (17/11/2023). Dua pesawat tempur taktis EMB-314 Super Tucano TNI AU milik Skadron Udara 21 Landasan Udara Abdulrachman Saleh, Malang mengalami kecelakaan di wilayah Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Kamis 16 November 2023 yang mengakibatkan empat orang meninggal dunia.
Foto: Antara/Umarul Faruq
Warga berada di dekat bangkai pesawat tempur taktis EMB-314 Super Tucano TNI AU yang mengalami kecelakaan di Pasuruan, Jawa Timur, Jumat (17/11/2023). Dua pesawat tempur taktis EMB-314 Super Tucano TNI AU milik Skadron Udara 21 Landasan Udara Abdulrachman Saleh, Malang mengalami kecelakaan di wilayah Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Kamis 16 November 2023 yang mengakibatkan empat orang meninggal dunia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Kepala Staf Angkatan Udara (KASAU), Marsekal Fadjar Prasetyo, mengatakan masih menginvestigasi insiden jatuhnya dua pesawat EMB 314 Super Tucano pada November lalu. Hingga kini, penyebab jatuhnya pesawat masih belum diketahui pasti 

"Pada minggu lalu saya sudah mengeluarkan surat perintah untuk dibentuknya penyelidikan untuk kecelakaan ini dan memang sekarang sedang berproses yang juga dilakukan dengan instansi luar seperti KNKT (Komite Nasional Keselamatan Transportasi)," jelas KASAU, Marsekal Fadjar Prasetyo usai peluncuran prangko bergambar empat pahlawan TNI AU di Mabes AU, Senin (4/12/2023).

Menurut Fadjar, pihaknya sedang memeriksa salah satu bagian pesawat seperti black box yang merekam aktivitas di pesawat. Namun, hingga kini belum ada informasi baru terkait insiden tersebut 

"Kami belum mendapatkan update tentang kecelakaan itu tetapi ada hal-hal yang bisa membantu karena (Super Tucano) memiliki semacam black box tapi kita tidak mengatakan black box. Tapi itu hanya sebagai alat yang sebetulnya untuk merekam penerbangan khususnya apabila sedang melaksanakan penembakan dan lain sebagainya," katanya.

 

TNI AU disebutnya masih menginvestigasi penyebab insiden ini, seperti kemungkinan peristiwa itu terkait dengan kesalahan manusia. Atau juga kemungkinan penyebabnya adalah karena kesalahan teknis.

"Apabila nanti sudah kita ketahui apakah itu kesalahan teknis ataupun kesalahan dari manusia, tentunya akan kita evaluasi untuk memperbaiki ke depannya. Apabila itu ditemukan adanya kesalahan teknis, tentunya kita akan mengevaluasi penyebabnya, apa karena pemeliharaannya atau apakah itu karena kesalahan manusia. Tentunya kita akan evaluasi dari pola pembinaan para penerbang kita," katanya.

Fadjar mengatakan insiden ini adalah kehilangan besar bagi TNI AU. Para awak pesawat yang menjadi korban disebutnya merupakan penerbang senior yang memiliki kemampuan mumpuni. 

"Para awak pesawat yang gugur adalah penerbang-penerbang senior yang memiliki kualifikasi sangat cukup lengkap sebagai seorang penerbang. Tapi apa mau dikata, begitulah suratannya, mendahului kita semua dan penerbang penerbang ini investasi yang mahal Angkatan Udara," ujarnya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement