Jumat 17 Nov 2023 05:09 WIB

Setelah Berhenti 20 Tahun, Disbud DKI Ekskavasi Kembali Benteng di Pulau Onrust

Disbud DKI ingin menggali sisa benteng dan benda warisan Kolonial Belanda di Onrust.

Rep: Haura Hafidzah/ Red: Erik Purnama Putra
Petugas Arkeologi Dinas Kebudayaan (Disbud) DKI Jakarta melakukan ekskavasi di Pulau Onrust, Kabupaten Kepulauan Seribu pada Rabu (15/11/2023).
Foto: Republika/ Haura Hafizhah
Petugas Arkeologi Dinas Kebudayaan (Disbud) DKI Jakarta melakukan ekskavasi di Pulau Onrust, Kabupaten Kepulauan Seribu pada Rabu (15/11/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dinas Kebudayaan (Disbud) DKI Jakarta melakukan ekskavasi kembali di Pulau Onrust, Kabupaten Kepulauan Seribu, setelah sempat terhenti 20 tahun lebih lamanya. Tujuan ekskavasi untuk menggali peninggalan sejarah, seperti sisa bangunan benteng dan benda lainnya dari berbagai periode sejarah kolonial Belanda.

"Kegiatan ekskavasi ini dilakukan selama 14 hari. Dari 8 November hingga 22 November 2023. Itu juga tidak menggali terus, kita juga melakukan analisis, pendataan dan pelaporan," kata Kepala Tim Ekskavasi Arkeologi Disbud DKI, Candrian Attahiyat saat ditemui di Pulau Onrust pada Rabu (15/11/2023).

Candrian menjelaskan, benteng pertama di Pulau Onrust dibangun pada 1656. Benteng berbentuk bersegi empat dan hanya dilengkapi dua bastion dengan courtine yang tidak panjang. 

Bastion adalah pos pengamanan di sudut bangunan benteng yang menjorok keluar dengan denah segi empat atau trapesium. Sedangkan courtine adalah dinding yang menghubungkan antara dua bastion. Benteng awal ini dibongkar diperluas menjadi bangunan benteng besar secara bertahap dimulai pada 1671. 

 

Dalam sejarahnya, benteng tersebut dibongkar oleh pasukan Kolonial Belanda karena mereka akan membangun benteng lebih besar secara bertahap dimulai pada 1671. Benteng besar ini digambarkan dalam peta buatan 1744 karya JW Heydt berbentuk segi lima dengan bastion di masing-masing sudut.

"Sisa-sisa Benteng Onrust yang terbuat dari batu, karang dan kayu tersebut masih terlihat di permukaan seperti dijelaskan pada denah Pulau Onrust yang digambarkan oleh JW Heydt," kata Candrian.

Menurut dia, hasil penemuan benteng dan fasilitas lain sebelumnya ini belum selesai sehingga harus dilakukan ekskavasi lebih lanjut. Misalnya, membuktikan titik lokasi akses keluar masuk dan batas-batas bastion benteng pertahanan Pulau Onrust mengacu kepada denah Pulau Onrust yang digambarkan oleh JW Heydt tahun 1744.

"Pembuktian titik-titik akses keluar masuk dan batas-batas bastion benteng diharapkan dapat menjadi dasar pertimbangan pelestarian cagar budaya di Pulau Onrust dan dapat mendukung narasi edukasi kepada masyarakat yang berkunjung nantinya," ujar Candrian.

Pantauan Republika.co.id saat mengunjungi Pulau Onrust, terdapat museum yang menyimpan barang-barang bersejarah peninggalan Belanda. Ada pula bangunan barak karantina haji. Sebab, dahulu kala, jamaah haji berangkat ke Arab Saudi melalui jalur laut harus singgah di Onrust. Saat kembali ke Indonesia, jamaah haji juga wajib dikarantina di situ.

Ada juga tempat penampungan air bersih, makam para Belanda dan penjara Nelanda. Pohon-pohon tinggi menjuntai mengelilingi seluruh bangunan-bangunan Belanda. 

Saat Republika.co.id berkeliling di pulau tersebut, ada beberapa pengunjung yang sedang memancing. Suasana pun menjadi menenangkan dan teduh di tengah embusan angin pantai, terlebih terdengar suara burung berkicau beberapa kali. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement