Jumat 10 Nov 2023 15:36 WIB

DKI Kerahkan 240 Alat Berat untuk Keruk Lumpur di Sejumlah Sungai

Pengerukan lumpur dimaksudkan untuk normalisasi sungai di DKI.

Warga mencari ikan di dekat Alat berat yang mengeruk lumpur Kali Ciliwung di perbatasan Kelurahan Kebon Baru dan Kelurahan Bidara Cina, Jakarta, Jumat (10/11/2023). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melaksanakan program Bulan Pengerukan Lumpur dengan mengintensifkan pengerukan sedimen lumpur dan sampah di aliran sungai untuk mengantisipasi terjadinya banjir jelang musim hujan.
Foto: Republika/Putra M. Akbar
Warga mencari ikan di dekat Alat berat yang mengeruk lumpur Kali Ciliwung di perbatasan Kelurahan Kebon Baru dan Kelurahan Bidara Cina, Jakarta, Jumat (10/11/2023). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melaksanakan program Bulan Pengerukan Lumpur dengan mengintensifkan pengerukan sedimen lumpur dan sampah di aliran sungai untuk mengantisipasi terjadinya banjir jelang musim hujan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengerahkan 240 alat berat untuk pengerukan di sejumlah sungai, termasuk di Kali Ciliwung yang berada di Kelurahan Bidara Cina, Jakarta Timur, dan Kelurahan Kebon Baru, Jakarta Selatan, pada Jumat (10/11/2023).

Penjabat Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono mengatakan, kegiatan yang telah dimulai sejak pekan lalu itu sebagai langkah untuk mengantisipasi banjir akibat debit air hujan tinggi hingga meluap.

Baca Juga

"Kami terus berupaya mengurangi sedimentasi lumpur. Hari ini di semua titik bergerak ada 240 unit alat berat. Semuanya turun mengeruk kali," kata Heru seusai meninjau pengerukan di Kelurahan Bidara Cina dan Kebon Baru.

Heru mengatakan, pengerukan sungai harus lebih optimal karena sudah memasuki musim hujan. Selain pengerukan kali, normalisasi Ciliwung di sejumlah titik seperti di Rawa Jati, Pancoran, Jakarta Selatan, terus berproses.

 

Dia juga mengungkapkan seluruh peralatan milik Dinas Sumber Daya Air (SDA) Provinsi DKI Jakarta dalam keadaan siaga untuk menghadapi musim hujan.

Saat ini, Dinas SDA Provinsi DKI memiliki 549 unit pompa permanen/statis (stasioner) di 195 lokasi, pintu air sebanyak 799 unit di 547 lokasi, pompa bergerak (mobile) sebanyak 566 unit, dan alat berat sebanyak 240 unit.

"Ada pompa mobile, ada pompa statis (stand by). Seperti di Ancol, ada tambahan dua pompa. Di Gunung Sahari, ada tambahan pompa lagi," katanya.

Di Jakarta Timur, juga ada tambahan beberapa waduk lagi. 'Ini semua kami upayakan dalam pengendalian banjir di Jakarta," kata Heru.

Heru juga mengajak masyarakat untuk turut serta mengurangi risiko banjir dengan cara tidak membuang sampah sembarang.

"Warga bantu untuk tidak buang sampah sembarangan. Kami sudah ngeruk, tiba-tiba warga buang sampah. Lalu, ada di tempat tertentu, salurannya bagus, tetapi tertutup. Sehingga suku dinas sulit untuk membersihkannya," kata Heru.

sumber : Antara
Yuk gabung diskusi sepak bola di sini ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement