Senin 06 Nov 2023 10:37 WIB

Menkes Instruksikan Percepat Produksi Dokter Spesialis, Ini Alasannya

Menkes sebut Indonesia harus mampu menghasilkan lebih dari 30 ribu dokter per tahun.

Menkes Budi Gunadi Sadikin menyoroti jumlah dokter yang dihasilkan setiap tahun di Indonesia, tidak sebanding dengan populasi yang ada.
Foto: Republika/ Dessy Suciati Saputri
Menkes Budi Gunadi Sadikin menyoroti jumlah dokter yang dihasilkan setiap tahun di Indonesia, tidak sebanding dengan populasi yang ada.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Kesehatan (Menkes) RI, Budi Gunadi Sadikin, menginstruksikan agar produksi dokter spesialis dipercepat. Hal itu ditujukan untuk memastikan distribusi tenaga kesehatan di seluruh Indonesia berjalan dengan baik.

Menkes menyebutkan jumlah dokter yang dihasilkan setiap tahun di Indonesia, tidak sebanding dengan populasi yang ada. Begitu pula di Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara, di mana pemenuhan fasilitas dapat dilakukan dengan cepat, namun ketersediaan dokter spesialis di wilayah tersebut masih menjadi kendala.

Baca Juga

"Kemarin saya groundbreaking empat rumah sakit di IKN. Semua yang punya rumah sakit pede bahwa rumah sakitnya akan selesai bulan Juli. Nggak pedenya, cari dokternya, apalagi dokter spesialis," kata Menkes dalam keterangannya di Jakarta, Senin (6/11/2023).

 

 

Hal yang sama juga ditemukan saat Menkes mengunjungi RSUD Sepaku di IKN beberapa waktu lalu. Menkes menemukan bahwa tidak ada dokter spesialis anestesi, spesialis bedah, terlebih spesialis ortopedi.

Menkes menilai spesialisasi itu dibutuhkan akibat tingginya angka kecelakaan kerja. Alhasil, pasien pun harus dirujuk ke Balikpapan dengan jarak tempuh tiga hingga empat jam.

 

"Oleh karena itu, kami sudah ada terobosan dengan adanya hospital based, dari 21 prodi spesialis yang saat ini ada, kami mau dorong. Kalau bisa nanti 300 rumah sakit tipe A dan B dalam waktu yang cepat bisa produksi dokter spesialis," ujarnya.

Menkes menilai program ini akan memudahkan untuk menyelesaikan masalah distribusi dokter spesialis. Menurutnya, Indonesia harus mampu menghasilkan lebih dari 30 ribu dokter setiap tahun.

Program ini juga disebut akan mengatasi masalah distribusi. Sebab, peserta didik diutamakan pegawai di RS yang bersangkutan, sehingga penempatannya sesuai kebutuhan. Biaya pendidikan yang dikeluarkan juga akan lebih murah.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement