Jumat 01 Sep 2023 19:31 WIB

Warga Masih Antusias Jajal LRT Meski Masih Banyak Kendala

Meski LRT Jabodebek masih banyak mengalami kendala, warga terlihat tetap antusias.

Rep: Fergi Nadira/ Red: Bilal Ramadhan
Antusias warga menjajal untuk pertama kalinya Lintas Rel Terpadu (LRT) pada Jumat (1/9/2023). Meski LRT Jabodebek masih banyak mengalami kendala, warga terlihat tetap antusias.
Foto: Republika/Fergi Nadira
Antusias warga menjajal untuk pertama kalinya Lintas Rel Terpadu (LRT) pada Jumat (1/9/2023). Meski LRT Jabodebek masih banyak mengalami kendala, warga terlihat tetap antusias.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Operasional resmi untuk publik pada Lintas Rel Terpadu (LRT) Jabodebek telah berjalan sejak Senin (28/8/2023). Meski masih banyak sejumlah kendala pada pekan pertama pengoperasiannya, masih banyak warga antusias menjajal untuk pertama kalinya moda transportasi yang dicanangkan sejak tahun 2019 ini.

"Saya sengaja dari rumah di Kemang Pratama naik ke Stasiun LRT Bekasi Barat. Ini baru dan pertama kalinya, jadi saya dan teman saya sangat menantikan pengalaman pertama saya," kata Yenni, warga Bekasi bercerita kepada Republika di peron jalur 2 Stasiun LRT Bekasi Barat pada Jumat (1/9/2023).

Baca Juga

Senada dengan Yenni, Melly penasaran ingin menjajal LRT buatan anak bangsa. Dirinya dan Yenni hendak menuju tujuan Stasiun LRT Dukuh Atas dan akan berlanjut ke Thamrin dengan menggunakan transportasi busway.

"Dari pemberitaan kemarin, masih banyak kendala, sebenarnya takut sih kalau ada apa-apa kayak tiba-tiba listrik mati di masa percobaan karena ini posisinya kita di atas gitu kan. Tapi bismillah saja semoga lancar," ujarnya saat hendak menaiki LRT.

 

Pantauan Republika, LRT dari Stasiun Bekasi Barat pada pukul 10.46 WIB tampak penuh. Kebanyakan dari mereka adalah warga ibu-ibu dan juga para warga bersama keluarga yang ingin menjajal naik MRT. Sementara di pagi hari, LRT didominasi oleh para pekerja dari Bekasi menuju Jakarta.

Salah satu pekerja yang hanya bersedia menyebutkan inisial nama MH mengatakan, LRT ini sangat membantu dirinya memangkas waktu di jalan hingga sampai kantornya di Gatot Subroto. Meski masih banyak kekurangan seperti pengereman yang kurang mulus, menurut dia, karya anak bangsa ini harus diapresiasi.

"Secara keseluruhan baik, tapi ada minusnya sedikit dan kalau ada kurang-kurang itu saya pikir wajar, karena ini baru sekali dan tetap produk anak Negeri harus dihargai, ada yang kurang-kurang harus dimaklumi," kata MH kepada Republika di dalam LRT gerbong dua.

Menurut dia kekurangan yang nyata adanya salah satunya adalah tinggi pintu LRT yang mengharuskannya membungkuk ketika memasuki rangkaian. Hal ini, kata dia, harus menjadi evaluasi tim perkeretaapian.

"Tinggi saya 160-an cm lebih, ini saja pintunya hampir mentok, ini terlalu pendek, dan kekurangan pengereman masih agak kasar. Perlu dievaluasi," kata dia.

Meski begitu, dia menggunakan moda transportasi ini sangat membantunya terhindar dari kemacetan dari daerah penyanggah ke ibu kota untuk bekerja. "Jarak waktunya menurut saya sangat membantu karena biasanya harus bermacet ria dan harus berkendara lebih dari satu jam dan kalau LRT bisa hanya 35 menit lah," katanya.

Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Elma Khotrunada (21 tahun) juga turut menjajal untuk pertama kalinya naik moda transportasi LRT. Menurut dia, bangku yang diduduki nyaman dan empuk.

"Sepertinya akan sering naik LRT kalau harganya murah, karena cepat  dan nggak perlu naik angkot lagi ke Stasiun Kranji kalau dari rumah saya," katanya di LRT sejak ia naik dari Stasiun LRT Cikunir 2. 

Warga Priok, Warsih (61 tahun) turut merasakan euphoria menajajal LRT untuk pertama kalinya. Meski jauh dari tempat tinggalnya, dia menggunakan banyak moda transportasi yang memudahkannya untuk mobilisasi di Jakarta.

"Ini nyaman sekali dan oke deh menurut saya, saya ketagihan kalau ke mana-mana sepertinya akan naik LRT dan juga MRT karena cepat banget," kata dia.

LRT Jabodebek memiliki rute awal dari stasiun Jati Mulya di Bekasi dan Stasiun Harjamukti di Depok. Tarif LRT Jabodebek dipatok dengan tarif Rp 5.000 hingga akhir September 2023. Setelah promo berakhir, tarif menjadi Rp 5.000 untuk satu kilometer pertama, dan Rp 700 untuk tiap kilometer selanjutnya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement