Rabu 12 Jul 2023 23:49 WIB

Olah Limbah dan Sampah, Taman Safari Bogor Jadi Pilot Project Industri Hijau

Pengolahan Taman Safari jadi percontohan kebun binatang seluruh Indonesia

Rep: Shabrina Zakaria/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
Sejumlah pengunjung menaiki Unta saat berwisata di Taman Safari Indonesia, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat (7/7/2023). Taman Safari Indonesia mencatat peningkatan kunjungan wisatawan mencapai 40 persen atau sekitar 7.000 pengunjung setiap harinya pada masa libur sekolah.
Foto: Republika/Putra M. Akbar
Sejumlah pengunjung menaiki Unta saat berwisata di Taman Safari Indonesia, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat (7/7/2023). Taman Safari Indonesia mencatat peningkatan kunjungan wisatawan mencapai 40 persen atau sekitar 7.000 pengunjung setiap harinya pada masa libur sekolah.

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR— Taman Safari Bogor bekerjasama dengan PT Greenprosa telah mematangkan persiapan jelang pengoperasian tempat pengolahan limbah dan Intregated Waste Management (IWM) Taman Safari Bogor. Pengelolaan limbah dan sampah oleh Taman Safari Bogor ini, disebut bisa menjadi pilot project untuk industri wisata lain di Indonesia.

CEO Greenprosa, Arky Gilang Wahab, mengatakan sentra pengolahan limbah akan dipusatkan di pintu keluar Taman Safari Bogor, yang lokasinya tak jauh dari titik transit penampungan sampah anorganik dan organik di Taman Safari Bogor. Ini pun dinilainya bakal menjadi percontohan pengolahan limbah kawasan kebun binatang di Indonesia.

“Nantinya, sampah organik di Taman Safari Bogor bakal mengolah sampah organik. Yang dapat dipanen adalah maggot sebagai sumber protein pakan ikan dan hasil lainnya adalah pupuk kasgot atau bekas maggot. Diharapkan, nantinya setiap hari akan mampuj menghasilkan 1 ton maggot,” kata Arky, Rabu (12/7/2023).

Saat ini, kata Arky, persiapan sudah memasuki tahap finalisasi. Sosialisasi pemilahan sampah pun mulai digelar ke semua divisi di Taman Safari Bogor.

Arky mengatakan, mesin pengolahan pun akan diuji cobakan dengan kapasitas sampah harian. Jika berhasil, ia meyakini ke depan langkah ini akan meringankan beban sampah di Indonesia.

“Jika melihat data yang kami hitung per Desember 2022, bakal ter-cover sepenuhnya. Residu sampahnya hanya tersisa 5 persen. Ini tentu sangat meringankan beban sampah di Indonesia,” kata Arky.

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) RI bersama Yayasan Dharma Bhakti Astra (YBDA) dan Pengurus Kamar Dagang dan Industri (Kadin), mengunjungi IWM ini pada Rabu (12/7/202). “Kami sangat mengapresiasi inisiasi Taman Safari, karena bisa menjadi pilot project untuk industri wisata lain di Indonesia,” ujar Penasihat YBDA, Tonny Sumartono.

Tonny juga berharap, IWM yang dibangun oleh Taman Safari Bogor bersama Greenprosa ini bisa menjadi rujukan bagi pengelolaan sampah domestik atau industri kecil lainnya di Indonesia. “Sampah yang selama ini kita anggap tidak punya nilai, ternyata bisa mendatangkan value seperti magot untuk pakan burung. Ini bagus karena punya nilai ekonomi bagus asalkan pemasarannya dikelola dengan baik,” kata Tonny.

General Manager (GM) Taman Safari Bogor, Emeraldo Parengkuan, mengatakan Memmorandum of Understanding (MoU) antara TSI Bogor dengan Greenprosa sudah dilakukan sejak November 2022. Selama kurun empat bulan terakhir, kata Emeraldo, persiapan infrastruktur telah dimatangkan.

“Sudah masuk finalisasi dan siap running. Kita berharap program ini bisa menjadikan Taman Safari Bogor sebagai pilot project dan rujukan green company di Indonesia,” kata Emeraldo.

Ia menegaskan komitmen teguh Taman Safari Bogor sebagai kawasan konservasi satwa dan alam untuk mengusahakan meritsystem pengelolaan sampah terbaik di Indonesia.

“Tujuan pengolahan limbah ini tentu tidak lepas dari keberangkatan dan kepedulian kita terhadap kondisi sampah dan limbah basah di Indonesia. Kita terus bersinergi dengan semua entitas, baik pemerintah mau pun swasta agar bersama-sama mengontrol kapasitas sampah,” ucapnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement