Rabu 17 May 2023 23:49 WIB

Perpusnas Luncurkan Buku Literasi Kunci Negara Produsen

Literasi gambarkan kompetensi seseorang mengolah informasi untuk kecakapan hidup

Rep: Ronggo Astungkoro/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas), Muhammad Syarif Bando, mengatakan, kecanggihan teknologi saat ini muncul bukan hanya karena kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, tapi juga didukung oleh literasi. Sebab, menurut dia, literasi menggambarkan kompetensi seseorang dalam mengolah informasi untuk kecakapan hidup.
Foto: Republika / Darmawan
Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas), Muhammad Syarif Bando, mengatakan, kecanggihan teknologi saat ini muncul bukan hanya karena kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, tapi juga didukung oleh literasi. Sebab, menurut dia, literasi menggambarkan kompetensi seseorang dalam mengolah informasi untuk kecakapan hidup.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas), Muhammad Syarif Bando, mengatakan, kecanggihan teknologi saat ini muncul bukan hanya karena kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, tapi juga didukung oleh literasi. Sebab, menurut dia, literasi menggambarkan kompetensi seseorang dalam mengolah informasi untuk kecakapan hidup.

“Pasalnya, literasi menggambarkan kompetensi seseorang dalam mengolah informasi dan pengetahuan untuk kecakapan hidup,” ujar Syarif Bandi dalam peluncuran buku ‘Literasi Kunci Negara Produsen’ di Jakarta, Rabu (17/5/2023). 

Peluncuran buku tersebut dilakukan bertepatan dengan Hari Ulang Tahun ke-43 Perpusnas sekaligus Hari Buku Nasional. Dia menyampaikan, pemikiran yang tertuang dalam buku tersebut merupakan pemikiran bersama yang diambil dari penggalan-penggalan pidatonya selama enam tahun terakhir.

"Apa yang tertuang di dalam buku yang dipersembahkan hari ini adalah merupakan kerangka yang tentu di sana-sini perlu masukan perbaikan saran dan penyempurnaan,” jelas dia.

Dia menjelaskan, perkembangan literasi masyarakat Indonesia masih berada pada kelompok dua menurut klasifikasi Kleden. Di mana itu berarti masyarakat yang mampu membaca dan menggunakannya untuk menyelesaikan tugas dan pekerjaan.

Mayoritas masyarakat Indonesia, kata dia, belum dapat memanfaatkan kecakapan itu untuk menambah pengetahuan, hiburan atau berekspresi melalui tulisan.

"Seharusnya bangsa ini sudah dapat melepaskan diri dari belenggu literasi yang dangkal ini, karena bangsa ini sudah bebas dari buta aksara sejak dua dekade lalu," jelas dia.

Dia kemudian menambahkan, perpustakaan telah meninggalkan paradigma lama. Perpustakaan tidak hanya berfungsi sebagai pusat informasi, tetapi juga sebagai pusat pembelajaran dan pengembangan pengetahuan.

Saat ini, tidak cukup apabila perpustakaan hanya bicara tentang manuskrip, buku digital, buku elektronik. Menurut dia, perpustakaan dan pustakawan harus mampu berperan sebagai influencer, memberikan tutorial, memandu jalannya teknologi, serta memproduksi barang dan jasa. Semua itu menjadi tantangan yang harus dibangun bersama.

"Saya yakin dan percaya tenaga-tenaga pustakawan tidak ada arti apa-apanya kecuali bergabung kepada ahli, guru besar, doktor, para master dari perguruan tinggi di seluruh Indonesia untuk mengubah nasib bangsa kita," ungkap dia.

Dalam sesi pembahasan buku, Maman Suherman menyampaikan, dari buku tersebut dijelaskan bahwa upaya mewujudkan Indonesia sebagai negara produsen menjadi tanggung jawab bersama.

"Begitu membaca ini, saya melihat Kepala Perpusnas menempatkan perpustakaan tidak dengan mengglorifikasi perpustakaan itu sendiri, tetapi perpustakaan adalah salah satu bagian dari ekosistem keliterasian yang saat ini sedang disusun peta jalan literasinya oleh Kemenko PMK," kata seorang penulis itu.

Lebih lanjut, pria yang kerap disapa Kang Maman itu mengatakan, yang menarik dari buku ini adalah pemikiran bagaimana Indonesia bisa mencapai dalam tahapan literasi kelima, yakni mampu memproduksi barang dan jasa. Di mana dalam mewujudkannya diperlukan peran civitas akademika.

"Kenapa tidak ada produksi, karena dalam pendidikan yang ada hanyalah penelitian, pengabdian masyarakat. Padahal tuntutannya adalah menjadi negara produsen. Saya berharap ini dapat menjadi pemantik di dunia pendidikan," lanjutnya.

Dosen Program Studi Perpustakaan Universitas Padjadjaran, Agus Rusmana, mengatakan gagasan yang disampaikan Kepala Perpusnas mengenai literasi bukanlah jenis tetapi tingkatan. Ada lima tingkatan literasi.

Lima tingkatan itu dimulai dari kemampuan membaca, mendapatkan akses bahan bacaan, kemampuan dapat memahami apa yang dibaca, kemampuan berinovasi dan berkreativitas, dan kemampuan dapat memproduksi dari apa yang dibaca.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement