Rabu 08 Mar 2023 15:26 WIB

Anak Sembilan Tahun di Lampung Barat Meninggal Dunia Diduga karena Difteri

Pasien anak difteri di Lampung Barat menunjukkan gejala mirip dengan difteri.

Petugas kesehatan melakukan vaksinasi ORI.
Foto: Dok. Dinas Kesehatan Kabupaten Garut
Petugas kesehatan melakukan vaksinasi ORI.

REPUBLIKA.CO.ID, LAMPUNG BARAT -- Seorang anak berusia sembilan tahun yang diduga terserang difteri di Pekon (Desa) Hujung, Kecamatan Belalau, Kabupaten Lampung Barat, Provinsi Lampung, meninggal dunia setelah menjalani perawatan. "Anak itu dinyatakan meninggal dunia setelah menjalani perawatan di puskesmas dan Rumah Sakit Alimuddin Umar Lampung Barat," kata Kepala Pekon Hujung Ismet Liza, di Lampung Barat, Rabu (8/3/2023).

Dia mengatakan bahwa pasien anak tersebut pada Senin (6/3/2023), dibawa orang tuanya ke Puskesmas Belalau karena sakit. Kemudian, petugas puskesmas merujuknya ke Rumah Sakit Alimudin Umarkarena hasil pemeriksaan menunjukkan gejala yang dialami mengarah ke penyakit difteri.

Baca Juga

"Pada Selasa (7/3/2023) pagi dini hari sekitar pukul 01.00 WIB almarhum hendak dirujuk ke RSUD Abdul Moeloek Bandar Lampung, namun baru sampai di Simpang Luas, Kecamatan Batu Ketulis, kondisi almarhum semakin lemah, sehingga mereka putar balik ke Puskesmas Belalau dan dinyatakan meninggal sekitar pukul 02.00 WIB tadi pagi," kata dia.

Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Alimudin Umardr Iman Hendarman menyampaikan bahwa gejala yang dialami oleh pasien anak tersebut serupa dengan gejala difteri. Menurut dia, petugas rumah sakit sudah mengirim sampel yang diambil dari anak itu untuk diperiksa di laboratorium guna memastikan penyakit yang diderita.

 

"Kami juga sudah mengambil sampel agar dilakukan uji lab ke pusat, dan hasilnya paling cepat satu bulan setelah sampel kita kirim," kata Iman.

Dia menjelaskan bahwa menurut diagnosa awal pasien itu mengalami tonsilitis atau peradangan pada dua bantalan jaringan berbentuk oval yang ada di belakang tenggorokan. "Jika nanti hasil uji lab ke luar dan hasilnya negatif, kita sudah ada upaya antisipasi, dan ketika memang hasilnya positif kita juga sudah melakukan upaya pencegahan, karena kita tidak mengharapkan hal-hal yang tidak diinginkan terjadi," katanya.

Difteri adalah penyakit menular yang utamanya disebabkan olehinfeksi Corynebacterium diphteriae, bakteri yang menyerang selaput lendir pada hidung dan tenggorokan serta dapat mempengaruhi kulit. Menurut informasi yang disiarkan di laman Kementerian Kesehatan, gejala serangan penyakit itu biasanyaberupa terbentuknya lapisan tipis berwarna abu-abu yang menutupi tenggorokan dan amandel serta sakit tenggorokan, suara serak, batuk, pilek, demam, menggigil, lemas, dan muncul benjolan pada leher akibatpembengkakan kelenjar getah bening.

Seseorang bisa tertular difteri bila tidak sengaja menghirup atau menelan percikan air liur yang dikeluarkan penderita saat batuk atau bersin atau menyentuh benda yang sudah terkontaminasi air liur penderita. Difteri dapat menyerang orang dari segala usia dan berisiko menimbulkan infeksi serius yang berpotensi mengancam jiwa.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement