Kamis 24 Mar 2011 22:02 WIB

Indonesia Banyak Rusuh Artinya Intelejen Gagal

Intelijen, ilustrasi
Intelijen, ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA-- Wakil Direktur Eksekutif "Human Rights Work Group" (HRWG) Choirul Anam menilai maraknya kasus kekerasan bernuansa agama akhir-akhir ini membuktikan kegagalan intelijen. "Itu bukti kegagalan intelijen, karena itu Presiden harus tegas meminta kesiagaan aparat intelijen di lapangan. Kalau tidak, maka negara yang akan gagal," katanya di sela-sela seminar 'Kebebasan Beragama' di FH Unair Surabaya, Kamis.

idampingi Kepala Departemen Publikasi CMARs (Center for Marginalized Communities Studied) Jatim, Akhol Firdaus, ia menjelaskan agama merupakan isu yang mudah dan murah untuk dimainkan demi kepentingan apa saja, termasuk "mengaburkan" sebuah masalah.

"Ya, kepentingan apa saja, karena kekerasan bernuansa agama atau apa yang dikesankan sebagai kekerasan agama itu memang terpola, tapi pemainnya tidak tunggal, sebab melibatkan militer dan sipil, termasuk elit politik nasional dan lokal," katanya.

Terkait kasus Ahmadiyah, HRWG bersama 54 organisasi HAM di Indonesia telah melaporkan kasus kekerasan yang menimpa Jamaah Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang, Banten, dalam forum Sidang ke-16 Dewan HAM PBB pada 10 Maret 2011.

Sementara itu, Kepala Departemen Publikasi CMARs Jatim, Akhol Firdaus, mengatakan kekerasan bernuansa agama di Jatim mengalami peningkatan sejak tahun 2007 hingga 2010. Selama 2010, CMARs bersama SETARA dan The Qahid Institute mencatat 26-28 pelanggaran hak kebebasan beragama/berkeyakinan di Jatim, bahkan CMARs dengan metode yang lebih longgar mencatat jumlah lebih banyak yakni 55 pelanggaran.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement