REPUBLIKA.CO.ID, KULONPROGO -- Gubernur Victoria, Margaret Gardner, mengunjungi salah satu sekolah di Kulonprogo, SDN Kalisongo, Kamis (20/11/2025). Kunjungan tersebut menjadi momen yang amat berharga bagi Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) yang memang pertama kali diinisiasi di Victoria, salah satu negara bagian di Australia.
Muhammad Nur Rizal (founder) dan Novi Poespita Candra (co-founder) memiliki ikatan yang sentimental dengan negara bagian tersebut. Sebab, ide membangun komunitas GSM yang kini sudah tersebar ke seluruh penjuru Indonesia bermula sejak menyekolahkan anak mereka di sana.
"Jika ini mungkin bagi anak-anak kami di Victoria, kenapa ini tidak mungkin bagi jutaan anak di Indonesia?" ujar Rizal dalam pidatonya.
Ia amat bersyukur pernah bertemu dengan guru-guru yang dahulu membimbing anaknya. Para pengajar yang terbuka terhadap wawasan kritis mengenai kurikulum, pedagogi, asesmen, dan filosofi pendidikan yang berlaku di Victoria.
"Mereka menciptakan ruang kelas yang membangun martabat, alih-alih ketakutan. Tidak ada kerahasiaan dan batasan. Hanya ada kepercayaan, kemurahan hati, dan sebuah kepercayaan bahwa pendidikan harus selalu melayani kemanusiaan," kata Rizal.
Tidak hanya dihadiri oleh warga sekolah, acara tersebut turut diramaikan oleh banyak pegiat komunitas GSM dari seantero Indonesia yang datang atas kemauan sendiri. Mulai dari GSM Gunungkidul, Kulonprogo, Yogyakarta, Semarang, Jepara, Pemalang, Boyolali, sampai Pangandaran.
Kehadiran para guru ini menjadi sebuah pertanda bahwa masih ada harapan untuk terjadinya transformasi bagi pendidikan di Indonesia.
"Anda tidak hanya mengunjungi sebuah sekolah hari ini. Anda mengunjungi sebuah komunitas, sebuah keluarga, gerakan para guru yang membentuk sebuah budaya belajar di Indonesia," kata Rizal saat menyambut para tamu.
Rizal juga membahas soal napak tilas bagaimana ia dan partnernya terinspirasi untuk memboyong kualitas pendidikan di Australia ke tanah kelahirannya, dengan kultur setempat serta spirit perjuangan guru yang tidak pernah putus, dalam menginginkan perubahan. Sebuah proses yang awalnya hanya berdampak bagi sepuluh sekolah, lalu kian berkembang hingga ribuan sekolah.
Rizal percaya bahwa perbaikan pendidikan di Indonesia tidak bisa dilakukan hanya melalui kebijakan publik semata. Namun, harus juga didasarkan pada hubungan yang baik antara sesama pihak yang percaya pada perubahan. Bahwa mesti ada kerja sama saling belajar, mendengarkan, dan menumbuhkan. Dengan bangga, Rizal menyampaikan terima kasih sekaligus memperlihatkan bukti dari perjuangannya mengintegrasikan praktik terbaik pendidikan global dengan kebudayaan setempat.
"Victoria telah menjadi guru bagi kami. Dan hari ini, kami merasa terhormat bisa menunjukkan bagaimana pengaruh Anda telah mengakar di Tanah Air kami, yang dibentuk oleh kearifan lokal Indonesia," kata Rizal.
Kenyataan bahwa guru sebagai garda terdepan pendidikan di Indonesia yang kualitasnya masih rendah tidak dapat dielakkan. Hanya saja, tutur Rizal, GSM berusaha menjadi sebuah cahaya optimisme bahwa persoalan tersebut dapat perlahan dicabut lewat peningkatan kapasitas diri guru oleh gerakan akar rumput.