REPUBLIKA.CO.ID,NEW YORK – Klaim Israel terkait pembantaian belasan paramedis di Gaza terbantahkan. Video yang dilansir Masyarakat Bulan Sabit Merah Palestina (PRCS) membuktikan eksekusi para relawan dan tenaga kesehatan saat mereka berulang kali mengucapkan syahadat dan memohon agar syahidnya diterima Allah.
Rekaman video itu ditemukan di ponsel salah satu paramedis dan diberikan kepada The New York Times oleh seorang diplomat senior PBB yang tidak ingin disebutkan namanya .
Rekaman tersebut, yang waktu dan lokasinya telah diverifikasi oleh The Times, menunjukkan bahwa ambulans dan truk pemadam kebakaran PRCS diberi tanda dengan jelas dan lampu daruratnya menyala sebelum mereka diserang oleh tentara Israel.
Setidaknya dua petugas penyelamat juga terlihat mengenakan seragam reflektif saat mereka keluar dari kendaraan mereka untuk menyambangi ambulans yang terdampar ketika pasukan Israel melepaskan tembakan.
The Times memverifikasi lokasi dan waktu pembuatan video tersebut, yang diambil di kota selatan Rafah pada awal tanggal 23 Maret. Difilmkan dari bagian depan kendaraan yang bergerak, video tersebut menunjukkan konvoi ambulans dan truk pemadam kebakaran, ditandai dengan jelas, dengan lampu depan dan lampu berkedip menyala, melaju ke selatan di jalan utara Rafah di pagi hari. Sinar matahari pertama terlihat, dan burung-burung berkicau.
Konvoi tersebut berhenti ketika bertemu dengan sebuah kendaraan yang membelok ke pinggir jalan – satu ambulans telah dikirim sebelumnya untuk membantu warga sipil yang terluka dan diserang. Kendaraan penyelamat baru memutar ke sisi jalan.
Kemudian, suara tembakan hebat terdengar. Rentetan suara tembakan terlihat dan terdengar dalam video yang mengenai konvoi tersebut. Kamera bergetar, video menjadi gelap. Namun audionya berlanjut selama lima menit, dan suara tembakan tidak berhenti.
Seorang pria berkata dalam bahasa Arab bahwa ada orang Israel yang hadir. Rekaman paramedis terdengar di video tersebut, berulang kali mengucapkan “syahadat,” ketika menghadapi kematian. “Tidak ada tuhan selain Allah, Muhammad adalah utusannya,” kata paramedis itu.
"Maafkan saya, ibu. Ini adalah jalan yang saya pilih - untuk menolong orang lain," katanya. “Allahu akbar.”
Mengetahui ia akan dibunuh tentara Israel, petugas kesehatan itu memohon ampunan kepada Allah. “Terimalah syahidku ya Allah,” ujarnya kemudian.
