Ahad 21 Jul 2024 06:35 WIB

Gunung Merapi Kembali Muntahkan Awan Panas, Jauhi Daerah Bahaya Ini

Masyarakat diminta menjauhi daerah bahaya yang direkomendasikan.

Rep: Silvy Dian Setiawan / Red: Satria K Yudha
Guguran lava pijar Gunung Merapi terlihat dari Srumbung, Magelang, Jawa Tengah, Kamis (29/2/2024). Gunung Merapi pada Sabtu (20/7/2024) kembali memuntahkan awan panas.
Foto: ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah
Guguran lava pijar Gunung Merapi terlihat dari Srumbung, Magelang, Jawa Tengah, Kamis (29/2/2024). Gunung Merapi pada Sabtu (20/7/2024) kembali memuntahkan awan panas.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA — Gunung Merapi kembali mengeluarkan awan panas guguran (APG) pada Sabtu (20/7/2024) malam. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menyebut, APG tersebut terjadi pukul 19.46 WIB yang mengarah ke barat daya. 

“Jarak luncur 1.200 meter ke arah Kali Bebeng (barat daya),” kata Kepala BPPTKG, Agus Budi Santoso, Sabtu (20/7/2024) malam. 

Baca Juga

Agus menuturkan, APG tersebut tercatat dengan amplitudo maksimal 35 milimeter, dan dengan durasi 119 detik. Untuk itu, masyarakat diminta menjauhi daerah bahaya yang direkomendasikan.  

Dikatakan Agus, potensi bahaya Merapi saat ini berupa guguran lava dan awan panas guguran. Potensi bahaya ini pada sektor selatan-barat daya dan sektor tenggara. 

Pada sektor selatan-barat daya, potensi bahaya Merapi meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal lima kilometer, Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh maksimal tujuh kilometer. 

Pada sektor tenggara, potensi bahaya Merapi meliputi Sungai Woro sejauh maksimal tiga kilometer, dan Sungai Gendol sejauh lima kilometer. Sedangkan, lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius tiga kilometer dari puncak.

BPPTKG menyebut, aktivitas vulkanik Merapi masih cukup tinggi. Status aktivitas Merapi juga masih ditetapkan di tingkat siaga atau level 3, sehingga masyarakat diminta untuk tidak beraktivitas di daerah potensi bahaya Merapi. 

“Masyarakat diminta untuk tetap patuhi rekomendasi (daerah bahaya),” ucap Agus. 

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement