Sabtu 20 Jul 2024 08:11 WIB

Survei Ini Ungkap Mayoritas Warga Israel Muak dengan Pemerintahan Militer Netanyahu

Pemerintahan militer Netanyahu mendapat penolakan warganya

Demonstrasi di Tel Aviv, Israel (ilustrasi).  Pemerintahan militer Netanyahu mendapat penolakan warganya
Foto: AP Photo/Maya Alleruzzo
Demonstrasi di Tel Aviv, Israel (ilustrasi). Pemerintahan militer Netanyahu mendapat penolakan warganya

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Mayoritas warga Israel tidak mempercayai para pemimpin militer negara mereka atau para politisi yang dipimpin oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, sebuah jajak pendapat publik baru-baru ini mengungkapkan.

Jajak pendapat yang dilakukan Jewish People Policy Institute terhadap sampel 816 warga Israel, dan kutipan-kutipan yang dipublikasikan oleh surat kabar Ibrani, Maariv, pada hari Rabu mengungkapkan bahwa 55 persen warga Israel tidak mempercayai kepemimpinan senior militer dan tingkat kepercayaan mereka terhadap pemerintah dan pemimpinnya, Benjamin Netanyahu, “sangat rendah”.

Baca Juga

Menurut hasil survei tersebut, hanya 26 persen responden yang mengatakan bahwa mereka mempercayai pemerintah, dibandingkan dengan 74 persen yang mengatakan bahwa kepercayaan mereka terhadap pemerintah rendah atau agak rendah.

“Sebanyak 71 persen mengatakan kepercayaan mereka terhadap Netanyahu sangat rendah atau agak rendah, dibandingkan dengan 27 persen responden yang mengatakan kepercayaan mereka terhadapnya masih tinggi atau cukup tinggi,” demikian hasil survei tersebut.

Di sisi lain, 63 persen warga Israel yang disurvei mendukung keputusan Mahkamah Agung yang mewajibkan perekrutan Yahudi ultra-ortodoks ke dalam tentara Israel, dibandingkan dengan 31 persen yang menentangnya.

Jajak pendapat tersebut menemukan bahwa 86 persen warga Israel sangat atau cukup prihatin dengan situasi keamanan di Israel.

Selama berbulan-bulan, Netanyahu telah menolak seruan untuk meninggalkan pemerintahannya dan mengadakan pemilihan umum dini, yang menurutnya akan “melumpuhkan negara” dan membekukan perundingan pertukaran tawanan dengan faksi-faksi Palestina di Gaza untuk jangka waktu yang mungkin mencapai 8 bulan.

Sejak 7 Oktober 2023, Israel telah melancarkan perang yang menghancurkan di Jalur Gaza, dan melakukan pengeboman setiap hari dengan faksi-faksi Lebanon dan Palestina di Lebanon.

Sementara itu jumlah warga...

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement