Rabu 17 Apr 2024 17:21 WIB

TNI Tampik Ada Zona Perang di Paniai, Tegaskan tak Ada Pengerahan Militer Tambahan

TNI hanya melakukan operasi patroli untuk memastikan keamanan masyarakat.

Rep: Bambang Noroyono/ Red: Teguh Firmansyah
Organisasi Papua Merdeka (OPM) kembali merilis nasib dan keberadaan pilot Susi Air Philip Mark Marthens, Jumat (12/4/2024).
Foto: dok. TPNPB-OPM
Organisasi Papua Merdeka (OPM) kembali merilis nasib dan keberadaan pilot Susi Air Philip Mark Marthens, Jumat (12/4/2024).

REPUBLIKA.CO.ID, JAYAPURA — Tentara Nasional Indonesia (TNI) membantah klaim Organisasi Papua Merdeka (OPM) perihal penerapan zona peperangan di wilayah adat Meepago, di Paniai, Papua Tengah.

Kodam XVII/Cenderawasih pun menampik adanya pengerahan ataupun penambahan pasukan dalam jumlah besar, khusus operasi militer untuk meladeni perang dari kelompok separatis bersenjata di wilayah tengah Bumi Cenderawasih tersebut.

Baca Juga

Kapendam Cenderawasih Letnan Kolonel (Letkol) Candra Kurniawan mengatakan, situasi keamanan di Paniai memang meninggi pascaserangan tentara OPM yang menewaskan Danramil 1703-04/Aradide Letnan Dua (Letda) Oktovianus Sogalrey beberapa hari lalu. Akan tetapi, situasi keamanan di wilayah tersebut, masih tetap dalam status normal tanpa adanya gerakan, maupun pergeseran, ataupun penambahan pasukan sebagai respons militer.
 
“Tidak ada penambahan, dan pengerahan pasukan TNI di Paniai,” kata Letkol Candra kepada Republika, Rabu (17/4/2024).
 
“Yang ada adalah hanya berupa patroli-patroli keamanan biasa untuk memastikan keamanan masyarakat di wilayah tersebut,” kata Letkol Candra menambahkan.
 
Di Jakarta Markas Besar (Mabes) TNI, pun mengaku tak pernah melabeli wilayah Paniai, sebagai kawasan peperangan, ataupun zona operasi khusus militer. Kapuspen Mabes TNI Mayor Jenderal (Mayjen) Nugraha Gumiliar mengatakan, yang terjadi saat ini di Paniai adalah upaya bersama TNI dan Polri untuk mengejar dan menangkap pelaku penembakan Letda Oktovianus.
 
“Istilah (Paniai sebagai wilayah perang), terserah OPM saja. TNI dan Polri saat ini fokus mengejar pelaku penembakan Danramil Aradide,” kata Mayjen Nugraha saat dihubungi Republika di Jakarta, pada Rabu (17/4/2024).
 
Ia memastikan, pelaku penembakan Letda Oktovianus adalah OPM. Pun kelompok seperatisme bersenjata itu sudah mengaku bertanggung jawab. Karenanya, kata Mayjen Nugraha, TNI dan Polri sebagai otoritas keamanan, dan penegakan hukum memastikan akan menagih tanggung jawab tersebut.
 
“Paniai adalah daerah yang ditengarai salah-satu tempat di mana OPM melakukan aksinya. Dan TNI bersama-sama Polri terus memburu OPM yang bertanggung jawab atas gugurnya Danramil Aradide beberapa waktu lalu,” kata Mayjen Nugraha.
 
Danramil 1703/Aradide Letda Oktovianus Sogolrey ditemukan tewas di kawasan Pasir Putih, di Distrik Aradide pada Kamis (11/4/2024). Perwira militer asal Papua itu, dibunuh dengan cara ditembak saat melintas sendirian di Jalan Trans Paniai-Intan Jaya, pada Rabu (10/4/2024).
 
Penyerangan tersebut menambah catatan panjang gugurnya para prajurit militer, pun kepolisian yang bertugas di wilayah Papua.
 
Markas Besar Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) OPM melalui Juru Bicara Sebby Sambom mengatakan, pembunuhan terhadap Letda Oktovianus tersebut sebagai balasan atas tewasnya Abubakar Kogoya dalam operasi gabungan militer Indonesia, di Tembagapura, Intan Jaya  pada Kamis (4/4/2024) lalu.
 
Sebby mengatakan, setelah serangan yang menewaskan Letda Oktovianus tersebut, otoritas militer di wilayah paling timur Indonesia itu melakukan pengerahan militer untuk balas dendam. TNI menjadikan wilayah Paniai sebagai zona peperangan dengan TPNPB-OPM.
 
“Markas Pusat TPNPB-OPM telah menerima laporan langsung dari Brigadir Jenderal Matius Gobai, Panglima TPNPB-OPM Kodap XIII Paniai Kegepa Nipouda bahwa wilayah Paniai adalah wilayah perang dengan TNI dan Polri,” kata Sebby.
 
“Dan Brigjen Matius Gobay menegaskan bahwa TPNPB-OPM XIII Paniai Kegepa Nipouda sudah menyiapkan diri untuk menjemput serangan balasan yang dilancakan oleh TNI dan Polri,” begitu sambung Sebby.

 

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement