Jumat 13 Oct 2023 23:37 WIB

Warpat Puncak akan Dibongkar, Ini Kata Para Pelanggannya

Pelanggan menilai Warpat Puncak menjadi alternatif wisata yang bisa memanjakan mata.

Rep: Shabrina Zakaria/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
Wisatawan menikmati suasana alam Agrowisata Kebun Teh, Warpat, Puncak Pass, Kabupaten Bogor.
Foto: ANTARA/Yulius Satria Wijaya
Wisatawan menikmati suasana alam Agrowisata Kebun Teh, Warpat, Puncak Pass, Kabupaten Bogor.

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR -- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor berencana membongkar ratusan lapak pedagang di sepanjang Jalur Puncak, termasuk ikon kuliner Puncak Warung Patra (Warpat). Meski masih ditunda untuk sementara waktu, rencana pembongkaran ini menuai berbagai komentar dari pelanggan Warpat.

Salah seorang di antaranya ialah Hafidz (17 tahun). Pelajar SMA negeri di Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor ini datang bersama teman-teman satu sekolahnya menggunakan sepeda motor.

Hafidz kerap berkunjung ke Warpat ketika hari libur. Sebab, menurutnya Warpat merupakan tempat makan yang nyaman, sejuk, dan cocok untuk nongkrong anak muda seperti dirinya.

“Warpat tempatnya enak, sejuk, kayak lagi sama teman-teman mau ke Puncak, paling ke Warpat,” kata Hafidz di lokasi, Jumat (13/10/2023).

 

Ia sendiri telah mengetahui berita dan informasi terkait rencana pembongkaran Warpat. Sebagai pelanggan setia, ia cukup sedih mendengar ikon kuliner ini harus dibongkar setelah berdiri puluhan tahun.

“Sebenarnya kenapa harus dibongkar? Padahal di sini tempatnya sudah enak, identik di sini dengan Puncak, tempat anak muda nongkrong. Sedihlah, kayak harus cari tempat baru,” ucapnya.

Sama halnya dengan Rizky (26 ), pemuda asal Cibinong ini memang jarang berkunjung ke Warpat. Hanya saja, ia menyayangkan keputusan Pemkab Bogor untuk membongkar Warpat dan ratusan lapak pedagang lainnya di sepanjang Jalur Puncak.

Padahal, Rizky merasa Puncak menjadi alternatif wisata yang bisa memanjakan mata, tapi ramah di kantong. Walaupun hanya sekadar makan mi instan dan roti bakar di Warpat.

“Padahal biarin aja sih (warungnya) nggak usah dibongkar. Kapan lagi bisa makan Indomie tapi pemandangannya kebun teh? Nggak usah bayar tiket wisata lagi,” ucapnya.

Sementara itu, salah seorang mahasiswi asal Bandung, Aliza (20), baru pertama kali berkunjung ke Warpat. Ia harus menempuh waktu perjalanan sekitar empat jam dari Bandung ke Warpat.

Meski menurutnya suasana di Warpat terasa nyaman, ia setuju dengan pemindahan pedagang-pedagang ini ke Rest Area Gunung Mas. Aliza yakin apabila kios ini dipindahkan, pengunjung atau pelanggan bisa merasa lebih nyaman.

“Kalau memang dipindahin dan itu di tempat yang emang nggak jauh beda dari yang ini, nggak apa-apa sih. Kan lebih enak ke pengunjung juga, lebih nyaman lagi,” ucapnya.

Diketahui, Satpol PP Kabupaten Bogor akan membongkar 509 lapak pedagang di sepanjang Jalur Puncak, Kabupaten Bogor termasuk ikon kuliner Puncak, Warpat. Ratusan pedagang tak berizin itu akan dipindah ke Rest Area Gunung Mas, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement