Rabu 04 Oct 2023 17:55 WIB

Keterpilihan Erick Thohir Dinilai Meningkat Setelah Berprestasi di PSSI

Burhanuddin menilai Erick muncul sebagai cawapres yang semakin diperhitungkan.

Rep: Muhammad Nursyamsyi/ Red: Agus raharjo
Ketua Umum PSSI Erick Thohir bersama para pemain timnas Indonesia U-17.
Foto: Dok PSSI
Ketua Umum PSSI Erick Thohir bersama para pemain timnas Indonesia U-17.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi mengakui terdapat hubungan antara sepak bola dan politik dalam diskusi mengenai para calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres). Ia mencontohkan hal itu terlihat pada sosok Ketua Umum PSSI Erick Thohir.

Menurut Burhanuddin, tingkat keterpilihan Erick Thohir sebagai cawapres belum muncul signifikan meskipun sudah menjabat sebagai Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sekian tahun. Namun, baru belakangan setelah Erick terpilih menjadi Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), tingkat keterpilihannya sebagai cawapres meningkat. Terutama setelah Indonesia meraih medali emas di final SEA Games di Kamboja.  

Baca Juga

“Yang paling jelas adalah Erick Thohir, yang sudah menjadi Menteri BUMN sekian tahun, belum menerima banyak dukungan sebagai cawapres. Tetapi setelah menjadi Ketua Umum PSSI, lalu memenangkan emas pada final SEA Games 2023, Erick Thohir mulai muncul sebagai cawapres yang semakin diperhitungkan. Jadi ada hubungan antara sepak bola dan politik,” ujarnya saat mengomentari hasil survei terakhir Lembaga Survei Indonesia (LSI) di Jakarta, Rabu (4/10/2023).

Menurut Burhanuddin, figur seperti Erick Thohir atau para pencinta sepak bola lain di Tanah Air, sebaiknya tidak dipertentangkan apabila mereka berniat maju ke dunia politik dan masuk dalam pertarungan politik. Bagi Burhanuddin, menilai politikus yang juga pengelola persepak-bolaan malah menjadi mudah.

Civic virtue-nya adalah mengelola sepak bola dengan benar. Justru kalau misalnya politisi salah mengelola sepak bola, dia akan kalah. Jadi dia harus serius memperbaiki sepak bola supaya bisa menang. Jadi justru keterlibatan dalam sepak bola menjadi salah satu ukurannya. Kalau dia bagus mengelolanya (sepak bola), maka bolehlah dia dapat bonus untuk dipilih oleh publik,” ujar Burhanuddin.

Menurut dia, jangan benturkan antara Self Interest pengelola sepak bola untuk menjadi tokoh politik dengan civic virtue (kemauan dari warga negara untuk menempatkan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi). “Jadi kalau politisi memiliki keinginan untuk memenangkan pertarungan (politik), itu tidak perlu dibenturkan dengan self interest tadi,” kata Burhanuddin.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement