Kamis 03 Aug 2023 16:27 WIB

Disdik Semarang Tegaskan tak Ada Lagi Sekolah Favorit

Kemajuan sekolah bergantung peran kepemimpinan kepala sekolah.

 Ratusan peserta didik baru kelas VII SMPN 3 Ungaran, Kabupaten Semarang, sedang mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) pada hari pertama masuk sekolah tahun pelajaran 2022/ 20223, Senin (11/7)
Foto: Bowo Pribadi
Ratusan peserta didik baru kelas VII SMPN 3 Ungaran, Kabupaten Semarang, sedang mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) pada hari pertama masuk sekolah tahun pelajaran 2022/ 20223, Senin (11/7)

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Semarang menegaskan saat ini tidak ada lagi istilah sekolah favorit dan bukan favorit, sebab kemajuan sekolah bergantung peran kepemimpinan kepala sekolah.

"Dulu masih ada (istilah) sekolah favorit dan tidak favorit. Sekarang ini sangat dinamis," kata Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang Bambang Pramusinto, Kamis (3/8/2023).

Baca Juga

Menurut dia, kepemimpinan kepala sekolah sebenarnya menentukan perkembangan dan kemajuan sekolah, apalagi pada zaman sekarang ini dengan pesatnya perkembangan teknologi.

"Bagus tidaknya sekolah tergantung leadership (kepemimpinan) kepsek (kepala sekolah). Kalau kepseknya inovatif, kreatif, pasti sekolahnya maju. Ini akan terlihat dari rapor pendidikan," katanya.

Ia menyebutkan hasil rapor evaluasi pendidikan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi yang mencatat 10 sekolah dengan peringkat terbaik, baik sekolah dasar (SD) maupun sekolah menengah pertama (SMP).

Berdasarkan hasil rapor evaluasi pendidikan itu, ternyata penyebarannya merata, yakni tidak hanya didominasi sekolah negeri, tetapi juga sekolah swasta. Bahkan, sekolah di wilayah pinggiran.

"Kemarin sudah diranking. Alhamdulillah sudah muncul 10 besar terbaik SD dan SMP. Kami bangga ternyata variatif, tidak hanya didominasi sekolah negeri, tetapi juga swasta," katanya.

Banyak sekolah yang dahulu tidak diperhitungkan karena berada di kawasan pinggiran, ternyata masuk dalam 10 besar rapor evaluasi pendidikan yang dilakukan oleh Kemendikbudristek.

"Yang saya bangga ternyata sekolah pinggiran juga muncul, (sekolah) swasta banyak yang dapat. Sekarang sudah sistem zonasi, dengan Kurikulum Merdeka. Semua sekolah punya kesempatan yang sama," katanya.

Hasil rapor evaluasi pendidikan itu akan segera dipublikasikan, baik melalui media sosial Disdik Kota Semarang, laman resmi Pemerintah Kota Semarang maupun media massa. Bambang berharap hasil rapor evaluasi pendidikan itu bisa memotivasi sekolah-sekolah lainnya, terutama dari kepala sekolahnya untuk semakin berbenah dan berkembang menjadi lebih baik.

"Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbudresitek) ada rapor pendidikan yang menilai itu tadi, pendidikan karakter, kembali ke leadership kepsek. Kami berharap ini bisa memotivasi para kepsek," katanya.

Sekolah-sekolah yang masuk dalam 10 besar tersebut, antara lain SD Negeri Bubakan, SDN Ngadirgo 02, SDN Ngijo 02, SD Karangkidul, SD PL Bernadus 01, SMPN 8, SMPN 5, SMPN 34, SMP Kristen YSKI, dan SMP Kristen Tri Tunggal Semarang.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement