Selasa 01 Aug 2023 18:00 WIB

BNPB Bantah Respons Lambat Kelaparan Papua Tengah Karena OPM

Keterlambatan bantuan ke lokasi karena kabar baru diterima akhir pekan lalu

Rep: Zainur Mahsir Ramadhan/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
KELAPARAN BERULANG DI PAPUA. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan kesulitan bahan makanan sejak awal Juni 2023 di dua distrik di Kabupaten Puncak, Papua Tengah karena kekeringan
Foto: Republika
KELAPARAN BERULANG DI PAPUA. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan kesulitan bahan makanan sejak awal Juni 2023 di dua distrik di Kabupaten Puncak, Papua Tengah karena kekeringan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan kesulitan bahan makanan sejak awal Juni 2023 di dua distrik di Kabupaten Puncak, Papua Tengah karena kekringan dan cuaca dingin ekstrem. Namun demikian, Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, membantah respon lambat penanganan karena hambatan cuaca dan OPM.

Dia menjelaskan, keterlambatan bantuan ke lokasi karena memang kabar baru diterima pada akhir pekan lalu. “Laporan kejadian ini memang baru kita terima Sabtu-Minggu lalu, dan malam ini Menko PMK dan Kepala BNPB langsung terbang ke Puncak Jaya untuk mengantar bantuan pemerintah secara langsung,” kata Abdul saat dikonfirmasi, Selasa (1/8/2023).

Ditanya kendala pelaporan dari masyarakat kepada pemerintah daerah, dia menjawab harus ditinjau lebih dalam kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Puncak. Namun demikian, dia menegaskan, laporan kepada BNPB baru diterima pada akhir pekan lalu.

“Yang pasti dari sisi kami, begitu laporan kami terima, disampaikan ke RI1 dan kita langsung respon secara langsung mengantarkan dukungan bantuan. Nggak ada hal lain yang menghambat kalau untuk kemanusiaan,” ucapnya.

Diketahui, Musim kemarau panjang disertai cuaca dingin ekstrem menyebabkan lima orang dewasa dan satu bayi di Distrik Agandugume dan Distrik Lambewi, Kabupaten Puncak, Provinsi Papua Tengah, meninggal dunia. Dikabarkan, warga sekitar mengalami gagal panen dan kesulitan air bersih sehingga menyebabkan diare serta dehidrasi.

Berdasarkan laporan Pusat Pengendali dan Operasi (Pusdalops) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang dihimpun dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Puncak per Ahad (30/7), bencana kekeringan ini telah berdampak pada kurang lebih 7.500 jiwa. 

“Kami BNPB bersama Menko PMK sebagai representasi pemerintah pusat akan hadir memberikan dukungan langsung kepada pemerintah Kabupaten Puncak atas bencana kekeringan. Semoga dukungan itu dapat meringankan beban saudara kita di sana,” ujar Kepala BNPB Suharyanto, dalam keterangannya di Jakarta, Senin (31/7).

Dijelaskan dia, pihaknya bersama Menko PMK Muhadjir Effendi akan bertolak ke Kabupaten Papua Tengah pada Rabu (2/8) dini hari. Suharyanto mengatakan, berencana membawa dan menyerahkan langsung dukungan logistik serta peralatan yang dibutuhkan kepada pemerintah daerah setempat.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement