Rabu 28 Jun 2023 10:27 WIB

Makna Dalam Mimpi SBY untuk Presiden Jokowi

SBY seolah menyindir bila sudah waktunya selesi memimpin ya sudah.

Rep: Fauziah Mursid/ Red: Teguh Firmansyah
Partai Demokrat menggelar bedah buku karya Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat yang juga Presiden ke-6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang berjudul Pilpres 2024 & Cawe-cawe Presiden Jokowi, The President Can Do No Wrong.
Foto: Dok. Partai Demokrat
Partai Demokrat menggelar bedah buku karya Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat yang juga Presiden ke-6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang berjudul Pilpres 2024 & Cawe-cawe Presiden Jokowi, The President Can Do No Wrong.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) beberapa waktu terakhir ini turut meramaikan isu politik nasional. Ini diawali dengan Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat ini menceritakan soal mimpinya bersama Presiden Joko Widodo dan Presiden kelima RI Megawati melalui akun Twitter-nya pada 19 Juni 2023.

SBY bercerita jika bersama-sama Jokowi dan Megawati pulang ke kampung halamannya masing-masing menggunakan kereta yang sama dari Stasiun Gambir. Namun, sebelum kembali ke asalnya, ketiganya menyempatkan berbincang dengan Presiden kedelapan RI yang tidak disebutkan sosoknya oleh SBY.

Baca Juga

Setelah berbincang santai, baik SBY, Jokowi dan Megawati kemudian berangkat ke tujuan mereka masing-masing yakni Jokowi di Solo, SBY ke Pacitan dan Megawati ke Blitar.

Pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif PARA Syndicate Ari Nurcahyo pun menilai mimpi SBY ini memiliki makna harapan sekaligus sindiran kepada para pemimpin bangsa tersebut. Ari mengatakan, satu kereta menandakan harapan SBY agar mengkonsolidasikan capaian para pemimpin ini dengan presiden selanjutnya, sebagaimana disebut SBY dalam mimpinya.

"Satu kereta ini artinya sama-sama mengkonsolidasikan seluruh capaian selama ini Bu Mega, Pak Jokowi dan SBY bersama-sama ke depan dengan Presiden ke-8. Harapan satu kereta juga bisa dimaknai rekonsoliasi karena selama ini hubungan Mega dan SBY kurang baik, sehingga rekonsiliasi membuahkan kebersamaan," ujar Ari dalam keterangannya, Rabu (27/6/2023).

Meski begitu, kata Ari, mimpi SBY ini juga bisa jadi sebagai suatu sindiran agar para pemimpin ini setelah selesai memimpin, menyerahkan estafet kepemimpinan kepada presiden selanjutnya. Karena itu, melalui mimpinya, SBY juga bisa jadi menyindir para pemimpin untuk menyelesaikan urusannya usai tidak lagi menjabat presiden.

"Jadi semacam pulang kampung, jadi Pak Jokowi ke Solo, Pak SBY ke Pacitan, Bu Mega nyekar di Blitar ke titik asal. Artinya kalau turun jadi presiden ya selesai ya sudah, kita menyerahkan estafet kepemimpinan kepada penerusnya," ujar Ari.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement