Ahad 04 Jun 2023 02:33 WIB

Golkar Dinilai Dilema Dukung Prabowo atau Anies Baswedan

Najmuddin menilai pintu berkoalisi dengan Prabowo sangat terbuka lebar bagi Golkar.

Rep: Febrian Fachri/ Red: Agus raharjo
Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto seorang diri bersilaturahim ke kediaman Ketua Dewan Pembina Partai Golkar, Aburizal Bakrie pada Selasa (2/5). Dalam pertemuan itu, turut hadir Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto.
Foto: Dok Partai Gerindra
Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto seorang diri bersilaturahim ke kediaman Ketua Dewan Pembina Partai Golkar, Aburizal Bakrie pada Selasa (2/5). Dalam pertemuan itu, turut hadir Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto.

REPUBLIKA.CO.ID, PADANG--Pengamat politik dari Universitas Andalas, Najmuddin Rasul, menilai Partai Golkar tengah mendapat ujian kematangan berpolitik. Saat ini Golkar ditinggal sendirian oleh kawannya di Koalisi Indonesia Bersatu (KIB).

Menurut Najmuddin, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) sudah merapat ke PDIP. Di sisi lain, PAN juga menunjukkan indikasi mengikuti jejak PPP merapat ke PDIP dan mendukung Ganjar Pranowo.

Baca Juga

Dengan bubarnya KIB, peluang Golkar untuk mengusung capres menurut Najmuddin hampir dipastikan hilang. Mereka kini hanya bisa berkoalisi dan masuk ke salah satu poros. Yakni poros pendukung Anies Baswedan atau poros Prabowo Subianto.

"Saya lihat kematangan politik Golkar tengah diuji. Selanjutnya, elite Golkar mesti berpikir lebih keras lagi, apakah akan tetap membangun KIB ataukah berkoalisi dengan Koalisi Perubahan dan Persatuan dengan Bacapres Anies. Ataukah mengajak Prabowo untuk membentuk berkoalisi baru," kata Najmuddin, Sabtu (3/6/2023).

Najmuddin melihat ide awal pembentukan KIB memang dari Partai Golkar. Dengan bertindak sebagai penggagas koalisi, partai berlambang pohon beringin tersebut berharap dapat mengusung Ketua Umum, Airlangga Hartarto sebagai capres.

Namun, menurut Najmuddin, elektabilitas Menteri Koordinator Bidang Perekonomian itu tak kunjung naik sehingga daya tawar koalisi ini jadi lemah. Najmuddin mengatakan, tidak heran bila PPP dan PAN lebih memilih untuk mendukung bacapres potensial seperti Ganjar Pranowo yang resmi diusung PDIP.

Najmuddin menyebut tidak akan sulit bagi Golkar bergabung dengan Koalisi Perubahan bersama Nasdem, Demokrat, dan PKS. Sebab, Airlangga sudah pernah melakukan pertemuan dengan elite-elite di koalisi tersebut.

"Sedangkan pintu koalisi dengan Partai Gerindra pengusung Prabowo juga sangat memungkinkan bagi Golkar. Apalagi Golkar merupakan pendukung Prabowo saat Pilpres 2014 lalu," ujar Najmuddin.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement