Selasa 02 May 2023 06:15 WIB

Dukung Ganjar, PPP Ingin Ulangi Bersatunya Nasional dan Islam

PPP menilai kerja sama dengan PDIP tidak hanya terjadi di Pilpres.

Rep: Febrianto Adi Saputro/ Red: Teguh Firmansyah
Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri (tengah) menerima dokumen dukungan dari bersama Plt Ketua Umum PPP Mardiono (kedua kanan) disaksikan Sekjen PPP Arwani Thomafi (kanan), Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto (kiri) serta Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo (kedua kiri) saat melakukan pertemuan di kantor DPP PDIP, Jakarta, Ahad (30/4/2023). Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI P) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) secara resmi menjalin kerja sama politik untuk menangkan Ganjar Pranowo di Pilpres 2024.
Foto: ANTARA FOTO/Galih Pradipta
Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri (tengah) menerima dokumen dukungan dari bersama Plt Ketua Umum PPP Mardiono (kedua kanan) disaksikan Sekjen PPP Arwani Thomafi (kanan), Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto (kiri) serta Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo (kedua kiri) saat melakukan pertemuan di kantor DPP PDIP, Jakarta, Ahad (30/4/2023). Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI P) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) secara resmi menjalin kerja sama politik untuk menangkan Ganjar Pranowo di Pilpres 2024.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Mahkamah Partai DPP PPP, Ade Irfan Pulungan mengungkapkan bahwa dukungan PPP terhadap pencapresan Ganjar Pranowo merupakan sebuah kelanjutan sejarah bersatunya ideologi nasionalisme dan Islam.  Irfan menilai kerja sama antara partai nasionalis dan Islam terus dilakukan.

"Sejak zaman awal kemerdekaan, orde baru hingga masa reformasi, kerjasama antara partai nasionalis dan Islam selalu terjadi. Saat ini kerja sama itu dipelihara dengan baik oleh PDIP dan PPP," kata Irfan dalam keterangan tertulisnya, Senin (1/5/2023).

 

Ade mengatakan, kerja sama PDIP dan PPP tidak hanya terjadi di Pilpres. Di sejumlah Pilkada PDIP - PPP juga kerap bekerja sama.  

 

"Salah satu yang paling fenomenal adalah koalisi PDIP - PPP di Pilkada Jawa Tengah tahun 2018 yang menduetkan Pak Ganjar Pranowo - Gus Taj Yasin Maimoen," ujarnya.

 

Jauh sebelum itu, PDIP dan PPP juga berkoalisi lewat pasangan "Mega - Bintang" yang pada akhir Orde Baru (Pemilu 1997) merupakan bentuk perlawanan terhadap kediktatoran Soeharto. "Sejarah juga mencatat pasangan Megawati-Hamzah Haz yang pernah menjadi Presiden dan Wakil Presiden RI. Ini merupakan pasangan PDIP - PPP yang selalu dikenang dua partai ini," ungkapnya.

 

Selain itu hubungan PDIP dan PPP selama ini juga harmonis dan saling menghormati. Tokoh-tokoh kedua partai dalam banyak kesempatan dan zaman saling menghormati. Salah satu contohnya yaitu kedekatan Ibu Megawati dengan tokoh-tokoh senior PPP seperti mantan ketua umum PPP Ismail Hasan Metareum, Mudrick Sangidoe dan Tokoh Ulama Kharismatik PPP KH. Maimun Zubair. Hubungan yang terjalin antartokoh tersebut merupakan bentuk hubungan yang sangat harmonis baik secara personal maupun kelembagaan Partai yang selalu melakukan kerjasama Politik dan saling bersilaturahmi.

 

"Kantor PPP - PDIP yang bersebelahan atau bertetangga di Jl Diponegoro, Menteng Jakarta Pusat yang menjadikan simbol hubungan kedekatan yang kuat bagi PPP dan PDIP," kata Irfan menambahkan.

 

Irfan mengatakan melalui dukungan PPP terhadap pencapresan Ganjar, PPP ingin mengulang kembali sejarah tersebut dalam Pilpres 2024 mendatang. PPP juga mengusulkan kader terbaik dari internal PPP sebagai Wakil Presiden. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement